MILAN — Euforia melingkupi Como 1907 usai mencatatkan kemenangan fantastis 9-1 atas tuan rumah RC Lens pada fase grup Liga Champions, Kamis (5/11/2026) dini hari WIB. Meski mengukir rekor kemenangan tandang terbesar yang belum pernah dicapai klub mana pun sepanjang sejarah kompetisi Eropa, sang pelatih Cesc Fabregas mengimbau anak asuhnya untuk tidak cepat jemawa.
Kemenangan menggelegar di Stade Bollaert-Delelis ini diwarnai hat-trick dari Tasos Douvikas—yang kini mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak sementara UCL—serta gol-gol dari Nico Paz, Lucas Da Cunha, Marc-Oliver Kempf, Mattia Liberali, Martin Baturina, hingga debutan muda Matteo Papaccioli. Hasil ini menempatkan Como di posisi keempat klasemen sementara fase liga.
"Ini adalah malam yang luar biasa bagi Como, bagi seluruh penggemar, dan bagi para pemain muda yang baru memulai kariernya. Namun, mereka harus tetap membumi, tetap merendah, terus belajar, dan tidak menganggap semuanya akan selalu berjalan mudah setelah ini," tegas Fabregas saat diwawancarai Sky Sport Italia.
Rekor Bersejarah dan Catatan Evaluasi
Hasil 9-1 ini menjadikan Como sebagai tim asal Italia pertama dalam sejarah yang sanggup mencetak sembilan gol dalam satu laga tandang di Liga Champions maupun era Piala Champions. Sebagian besar gol tercipta lewat skema permainan dari kaki ke kaki dari lini belakang yang memang menjadi filosofi Fabregas.
Meski demikian, Fabregas mengaku sempat kesal karena timnya gagal mengemas clean sheet setelah kebobolan gol volley ciamik dari mantan rekan setimnya di Monaco, Ruben Aguilar. "Saya sejujurnya marah atas gol yang bersarang di gawang kami. Tapi saya sempat menyapa Ruben dan bilang padanya bahwa saya belum pernah melihatnya mencetak gol sebagus itu," ujar Fabregas sembari tersenyum.
Alasan Unik di Balik Skuad "Kaki Kiri"
Satu hal menarik dari kemenangan besar ini adalah dominasi pemain berkaki kidal di lapangan. Fabregas tak menampik bahwa ia memiliki preferensi khusus terhadap tipe pemain tersebut.
"Saya memang punya kelemahan pada pemain berkaki kiri. Menurut saya mereka punya keistimewaan, kelas, dan teknik yang berbeda dari yang lain," ungkap Fabregas. "Meski begitu, kami tidak secara khusus merencanakan mengumpulkan begitu banyak pemain kidal, itu terjadi secara alami."
Usai mencatatkan enam kemenangan beruntun di semua kompetisi, Como kini mengalihkan fokus penuh menghadapi ujian berat melawan juara bertahan Serie A, Inter Milan, pada akhir pekan nanti sebelum jeda internasional. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co