Adakah manusia yang tidak pernah sedih atau kecewa? Hampir pasti tidak ada. Siapa pun itu. Meski mereka yang kaya raya, sukses, ternama, pintar, atau terlihat memiliki segalanya.
---
SEMUA manusia punya tantangan hidup masing-masing, yang kadang tak terduga oleh orang di luar sana. Konon juga makin pintar seseorang, justru makin tidak sederhana hidup dan perasaannya.
Mengapa? Karena mereka cenderung selalu berpikir, mengalkulasi, atau menganalisis. Begitu juga yang kaya raya. Mereka mungkin jadi lebih sibuk. Sibuk jaga nama, penampilan, bisnis, kedudukan, atau apa pun. Yang jika ”cacat” sedikit saja jadi merasa kurang atau bahkan hancur.
Kecewa dan sedih adalah bagian dari kehidupan. Yang harus dikelola agar kehidupan bisa dijalani dengan lebih nyaman. Apakah semudah itu? Mungkin tidak, tapi ikhtiar selalu bisa dilakukan dan dioptimalkan. Manusia diberi perangkat akal pikiran untuk membangun kesadaran semangat berjuang dan lalu berbuat. Mereka yang menyerah berarti malas menggunakan perangkat itu.
Barusan saya bertanya kepada seorang mahasiswa cerdas yang orang tuanya hidup berpisah saat dia masih remaja. Setelahnya, hidup tentu tidak mudah baginya. Saya tanya, saat-saat apa Anda merasa sedih atau kecewa? Dia malah senyum dan bingung, ”kapan ya?” ucapnya.
Saya menyahuti ”Anda nggak merasakan karena selalu sibuk dengan bermacam kegiatan ya?”. Dia mengiyakan, ”nah, betul itu, Bu. Saya sibuk, jadi ndak sempat mikir keadaan yang sedih,’’ tuturnya.
Dari situ kita melihat bahwa menjadi sibuk dengan apa yang bisa mengisi hati dan hari kita adalah salah satu cara atau kondisi yang ”menyembuhkan” dan bahkan perlahan bisa melenyapkan sedih dan kecewa akibat sesuatu hal. Apalagi jika kesibukan itu membuahkan hasil yang membanggakan, memakmurkan, dan membahagiakan diri dan orang-orang lain.
Dilanda sedih atau kecewa pasti membuat perasaan tidak nyaman. Sesedih apa, tentu bergantung level penyebabnya. Agar sehat, yang mungkin perlu dilakukan adalah:
- Mengakui bahwa hal itu membuat sedih atau kecewa (mengakui rasa).
- Menerima bahwa itu terjadi pada kita (acceptance skill).
- Menangis, jika sangat menyedihkan, agar merasa lega.
- Bicara (curhat) dengan seseorang yang dipercaya.
- Tidak membiarkan diri tenggelam dan fokus pada kesedihan itu.
- Lebih banyak bersosialisasi dan berdiskusi dengan orang-orang berkualitas.
- Ciptakan persahabatan-persahabatan baru sebagai support system.
- Fokus menggiati kesibukan-kesibukan. Cari bila belum punya.
- Makin produktif dengan bidang yang dicintai.
Mengisi hati dan hari dengan hal-hal positif bisa berupa kesibukan atau pekerjaan menyenangkan, menciptakan karya, persahabatan tulus, dan semangat hadir sebagai manfaat terbaik. Lambat laun sedih dan kecewa pun lenyap. (*)
*) BABY JOEWONO, Founder & trainer of Baby Joewono Soft Skills Center