Dokter mata subspesialis strabismus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K) menyatakan, mata juling (strabismus) merupakan kelainan pada mata yang bisa disembuhkan. Yakni dengan metode pengobatan seperti pemakaian kacamata dan operasi.
”Bila kacamata tidak dapat menghilangkan juling sepenuhnya, operasi juling perlu dilakukan untuk menghilangkan juling yang belum terkoreksi,” kata Gusti seperti dilansir dari Antara, Sabtu (14/10).
Menurut Gusti, meski kedua metode tersebut dapat dilakukan, proses tindakan tidak bisa langsung diputuskan. Sebab, pasien harus melakukan skrining mata terlebih dahulu. Penggunaan kacamata hanya dapat diberikan jika juling pada mata karena kelainan refraksi (hiperopia atau miopia) yang tidak dikoreksi.
Kacamata dapat mengurangi juling atau menghilangkan kebutuhan akan operasi juling. Setelah pemakaian, setiap pasien harus diperiksa kembali keadaan mata dan kelainan refraksi. Kacamata juga harus selalu dipakai dalam segala aktivitas untuk membantu meluruskan matanya.
Terkait dengan operasi, Gusti menjelaskan, operasi juling sebaiknya dilakukan bila penglihatan pada kedua bola mata telah seimbang. Sehingga, penglihatan binokular dapat berkembang.
Sebaliknya, jika juling hilang timbul, operasi juling tidak harus dilakukan segera karena anak masih memiliki penglihatan binokular pada sebagian waktu. ”Pada orang dewasa, bila juling telah terjadi sedemikian lama atau sejak kecil dan tidak mungkin mendapatkan penglihatan binokular, operasi dilakukan untuk tujuan memperbaiki penampilan atau kosmetik,” ujar Gusti, dokter yang praktik di JEC Eye Hospital itu.
Walaupun demikian, Gusti tidak dapat menjamin garansi pasien dapat pulih 100 persen dari juling pasca operasi dijalankan. Hal itu karena penyembuhan tergantung dari kondisi masing-masing pasien.
Dia meminta masyarakat tidak termakan pengetahuan palsu yang mengatakan mata juling tidak dapat disembuhkan. Sehingga, membentuk stigma bahwa kelompok juling adalah orang-orang yang berbeda dan menyebabkan penderita mengalami penurunan kepercayaan diri hingga tekanan psikologis.
”Mohon dipahami bahwa mata juling terjadi akibat posisi kedua bola mata tidak sinkron dan terlihat menyimpang dari posisi yang seharusnya. Kondisi itu dapat terjadi pada berbagai macam usia, jenis kelamin, secara mendadak atau sejak lama, dengan berbagai potensi penyebabnya,” terang Gusti.
Dalam sebuah studi global pada 2021, diketahui prevalensi mata juling di seluruh dunia diperkirakan mencapai 1,93 persen atau lebih dari 148 juta individu. Dengan gejala mata juling berupa mata tidak sejajar ke arah yang sama, gerakan mata tidak terkoordinasi, kehilangan penglihatan atau persepsi kedalaman dan memiringkan kepala selama berbagai kegiatan. Akibatnya, penderita mata juling berpotensi terkena gangguan penglihatan lain seperti mata malas (ambliopia).
Gusti menambahkan pergerakan mata untuk fokus membutuhkan koordinasi yang diatur 12 otot mata. Jika terkena juling, salah satu mata seseorang akan mengarah ke arah yang berlainan dengan mata yang lain. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria