Phobia berasal dari kata dalam bahasa Yunani "phobos" yang memiliki arti "ketakutan" dalam bahasa Indonesia. Kata "phobos" juga diambil dari dewa dalam mitologi Yunani yang mengendalikan perasaan takut. Dalam spektrum penyakit kejiwaan, phobia termasuk ke dalam salah satu jenis dari gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Sementara itu, dikutip dari situs resmi Cleveland Clinic, philophobia juga berasal dari bahasa Yunani dengan "philos" yang artinya "cinta".
Orang-orang yang menderita philophobia merupakan mereka yang memiliki ketakutan berlebih akan perasaan jatuh cinta. Hal itu membuat para penderita philophobia merasa tidak bisa, atau bahkan mustahil untuk menjalin hubungan romansa dengan orang lain. Dilansir oleh JawaPos.com dari situs resmi Cleveland Clinic, tidak bisa dipastikan apakah gangguan philophobia ini merupakan fenomena yang langka atau bukan, karena orang-orang yang mengalaminya terkadang bahkan tidak menyadari bahwa mereka mengidap gangguan tersebut.
Sekitar satu dari sepuluh orang dewasa dan satu dari lima remaja di Amerika dipercaya mengidap gangguan ini. Sementara itu, dikutip dari Web MD, philophobia merupakan kondisi yang tidak bisa didiagnosa oleh dokter, karena gangguan ini tidak terdapat di dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM).
Meskipun begitu, dokter tetap bisa membantu penderita philophobia untuk sembuh apabila kondisi tersebut memengaruhi aktivitas sehari-hari Anda. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang menderita philophobia, yaitu faktor trauma masa lalu, faktor genetik, ketakutan akan penolakan, dan phobia lainnya. Meskipun begitu, dokter tetap bisa membantu penderita philophobia untuk sembuh apabila kondisi tersebut memengaruhi aktivitas sehari-hari Anda.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang menderita philophobia, yaitu faktor trauma masa lalu, faktor genetik, ketakutan akan penolakan, dan phobia lainnya.
Trauma masa lalu yang memicu philophobia bisa berasal dari lingkungan keluarga yang abusif, orang tua yang bercerai, atau orang tua yang absen secara fisik maupun emosional.
Selain itu, hubungan-hubungan romansa sebelumnya yang tidak berjalan dengan baik, seperti toxic relationship atau abusive relationship juga bisa memicu gangguan ini.
Faktor-faktor budaya dan agama juga bisa berperan dalam memicu ketakutan seseorang terhadap cinta.
Biasanya, orang-orang yang tidak mendapat perhatian yang cukup dari lingkungan sekitarnya juga bisa memiliki gangguan philophobia.
Gejala-gejala yang dialami oleh orang-orang dengan gangguan philophobia meliputi ketidakmampuan menjalin hubungan romansa yang intim, merasakan kecemasan yang berlebih ketika berada dalam hubungan romansa, merasa takut dengan pasangan atau perasaannya, dan menjauh dari orang lain atau mengakhiri hubungan secara tiba-tiba.
Mereka juga bisa mengalami gejala berikut ketika merasakan jatuh cinta, seperti mual, pusing, muntah, diare, keringat berlebih, merasakan ketakutan yang ekstrem, napas terengah dan jantung berdebar, dan gemetar.
Meskipun gangguan ini tidak tertulis di DSM, namun beberapa ahli kejiwaan mendeteksi gangguan ini dengan beberapa cara, seperti:
1. Perasaan takut yang berlebih terhadap cinta selama enam bulan berturut-turut
2. Perasaan cemas atau takut yang intens ketika sedang jatuh cinta
3. Merasakan atau mengalami beberapa gejala phobia ketika sedang jatuh cinta
4. Kecemasan atau ketakutan yang membuat Anda menghindari memberi atau menerima cinta
5. Merasakan atau mengalami gejala ekstrem yang mengganggu kemampuan Anda untuk membangun hubungan romansa
Gangguan philophobia ini bisa dirawat dan disembuhkan dengan menggunakan metode Cognitive Behavioral Therapy (CBT) melalui terapi bicara bersama ahli kejiwaan.
Metode tersebut bisa membantu Anda mengenali pemikiran dan perilaku apa yang bisa membuat Anda merasakan takut akan cinta.
Perlu diingat bahwa setelah membaca artikel ini, diharapkan Anda tidak melakukan self-diagnose! Jika Anda merasakan gejala-gejala yang disebutkan di atas, sebaiknya segera hubungi psikiater atau psikolog terpercaya! (*)