Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kenal dan Pahami Skizofrenia

izak-Indra Zakaria • Minggu, 21 April 2019 | 09:43 WIB

TAK hanya bipolar, ada pula gangguan jiwa lain yakni skizofrenia. Menurut psikiater Jaya Mualimin, skizofrenia termasuk yang paling banyak penderitanya. Jika gangguan bipolar cenderung perubahan suasana hati yang begitu ekstrem, skizofrenia justru penyakit mental yang menyebabkan gangguan proses saat berpikir.

Keduanya memiliki perbedaan signifikan, namun masih ada sebagian orang yang menganggap keduanya sama atau sulit untuk membedakannya. Satu hal yang paling mencolok pada skizforenia, yaitu mereka cenderung memikirkan pikiran-pikiran negatif.

Berbeda dengan gangguan bipolar yang bisa menyerang siapa saja dari segala usia, skizofrenia tidak. Diungkapkan Jaya, skizforenia biasanya mulai muncul atau dirasakan saat menginjak usia 15–35 tahun. Gejalanya bisa seperti penderita kerap mengurung diri, selalu memendam perasaan, hilang nafsu makan dan akhirnya bisa saja mengamuk.

Namun, tetap tak menutup kemungkinan pula jika ada seorang ibu mengandung, namun dia justru malah mengonsumsi hal-hal yang tidak baik untuk janin. Seperti merokok dan meminum alkohol. Sehingga janin tidak mendapat nutrisi yang seharusnya dan memberikan trauma jalan lahir bagi janin. Kebiasaan tersebut juga bisa memicu anak mengidap skizofrenia ketika dia telah menginjak usia 15 tahun karena tumbuh kembangnya tidak bagus.

“Jika sudah mulai dirasakan ada perubahan perilaku pada penderita, seharusnya segera dibawa ke rumah sakit. Itu dianggap sebagai fase laten, fase tersebut yang akan menjadi dasar untuk gangguan skizofrenia. Jangan kalau sudah mengamuk, baru dibawa. Itu tidak benar,” ungkap dokter di RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda itu.

Disebutkan, penderita skizofrenia berjumlah sekitar 1-1,5 persen dari 1.000 populasi yang ada. Pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa untuk penyakit ini menyentuh angka 95 persen. Tidak melihat jenis kelamin, perempuan dan laki-laki sama berisikonya.

Penderita acap kali berhalusinasi atau waham. Faktor penyebab juga oleh genetik, perbedaan struktur otak, senyawa kimia di otak, faktor lingkungan, dan pemakaian obat-obat tertentu seperti narkotika. Risiko paling bahaya dari skizofrenia adalah dorongan untuk bunuh diri yang disebabkan halusinasi. Seakan-akan ada yang menyuruh penderita untuk menyakiti dirinya.

Terkait penanganan medis, penderita akan diberi obat antipsikotik yang bertujuan menghambat efek dopamin dan serotonin dalam otak. Meski keadaan penderita telah membaik, obat antipsikotik harus tetap diminum seumur hidup. Selain itu, melakukan terapi wajib dilakukan agar dapat mengendalikan gejala yang dialami.

Tak hanya penderita yang mendapat terapi, namun keluarga dan sanak terdekat agar mereka lebih memahami untuk berkomunikasi dengan penderita. Selain itu, ada pula terapi dengan elektroda atau biasa disebut elektrokonvulsif. Metode tersebut cukup efektif dilakukan.

“Hampir sama seperti gangguan bipolar, jika penderita datang ke psikiater di saat masih awal-awal gejala muncul, pengobatannya tidak lebih dari dua tahun. Konsekuensi dari datang terlambat, pemberian obatnya bisa jadi seumur hidup. Paling sebentar itu sekitar 2-5 lima tahun. Obat itu sebenarnya sudah menyembuhkan tapi perlu waktu panjang,” ungkap pria yang berkarier menjadi psikiater sejak 13 tahun silam itu. (*/ysm*/rdm2/k16)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#kesehatan