Pandemi virus corona memaksa masyarakat beraktivitas lain dari biasanya. Imbauan jaga jarak, hingga jaga kebersihan dengan masker dan cuci tangan dianjurkan. Lembaga pendidikan pun menerapkan kegiatan belajar daring (dalam jaringan). Seiring berjalannya metode tersebut, banyak ditemui keluhan. Baik dari orangtua murid dan guru.
BELAJAR secara daring menghadirkan polemik. Ada yang mendukung karena khawatir buah hati terpapar virus corona, namun sebagian orangtua mengeluh karena harus menjadi “guru” dadakan buat anak mereka. Apalagi yang baru mengenyam bangku pendidikan, musti mendampingi berjam-jam di depan telepon pintar.
“Ada tiga model supporting pendidikan, normalnya dari pemerintah, masyarakat lalu keluarga. Yang dua sekarang macet, peran besar sekarang ada di keluarga. Dengan kondisi darurat begini, diterapkan belajar dengan menggunakan teknologi informasi dan jaringan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Samarinda Asli Nuryadin, tengah pekan lalu.
Definisi jaringan disebutkan Asli ada beberapa tingkatan lagi. Idealnya anak harus punya layar di rumah, baik komputer atau laptop yang terhubung dengan jaringan. Namun, kondisi orangtua tidak semua memungkinkan. Digunakanlah smartphone yang lebih akrab dengan masyarakat. Namun juga memiliki kekurangan, layarnya yang kecil tentu tidak diperuntukkan jangka lama.
“Jangan terlalu lama juga menatap layar handphone karena tidak baik untuk kesehatan mata anak juga,” sebutnya. Berbagai kendala ditemui di lapangan. Seperti mereka yang sudah stabil dengan fasilitas handphone memadai dan kuota internet. Ada pula yang memiliki perangkat namun tak ada kuota, hingga tak memiliki keduanya.
Dengan kondisi pandemi, diberlakukan pula kurikulum darurat. Sebab, tidak bisa seperti biasanya. Kendala lain juga disebutkan Asli seperti orangtua yang hanya memiliki satu perangkat namun memiliki lebih dari satu anak yang bersekolah.
Penggunaan berbagai metode pembelajaran seperti video pembelajaran, video conference, dan lain-lain disesuaikan sekolah. Urusan teknis adalah kewenangan sekolah. Termasuk penyesuaian kondisi orangtua peserta didik.
Diungkapkan Asli jika ada dana bantuan operasional sekolah nasional (bosnas) yang kini penggunaannya lebih fleksibel. “Sudah beberapa Minggu lalu disosialisasikan ke seluruh kepala sekolah. Berharap awal Agustus ini sudah start untuk penggunaan dana, bantuan kuota internet bagi guru dan murid yang tidak mampu,” ungkapnya.
Dia mengatakan jika bantuan corporate social responsibility (CSR) dari salah satu provider bisa menghemat hingga 40 persen. “Saya ilustrasikan misal Rp 5 juta bisa membeli 750 gigabyte (GB). Kalau dunia pendidikan mereka kasih 1.250 GB. Nanti dari sekolah yang menyalurkan, kuota per guru atau anak dapat berapa dari kewenangan sekolah,” jelas Asli.
“Bagaimana logikanya belajar daring tapi tidak ada dana dari pemerintah melalui bosnas untuk pembelian paket data? Jika tidak dilakukan ya justru keliru,” tambahnya. Penggunaan bosnas diberi fleksibilitas guna kepentingan belajar. Disebutkan Asli jika nantinya ada evaluasi terkait penggunaannya.
Bagaimana jika murid tidak bisa mengikuti metode pembelajaran daring? Maka, opsi yang disarankan Disdik yakni mendekat ke tetangga atau kawannya yang masih satu zonasi. Lalu jika dalam satu lingkungan tidak ada yang mampu, maka bergabung 5–10 anak di satu rumah, guru yang akan mendatangi. “Guru itu dibantu juga oleh sekolah dana transportasinya,” sebut Asli.
Paling terakhir yakni opsi yang menurut Asli jangan sampai terjadi. Yakni, maksimal 10 murid dibantu dengan belajar di sekolah. “Itu opsi paling darurat. Diharapkan anak tersebut bisa bergabung dengan kawannya untuk ikuti proses belajar. Tentu dengan protokol kesehatan,” ujarnya.
Dia menyadari jika orangtua sudah tentu terbebani dengan metode daring. Seperti biaya kuota internet, listrik hingga mendampingi siswa belajar. Terpenting menurutnya adalah proses belajar tetap berjalan. “Berat sekali karena zona harus hijau jika ingin tatap muka. Paling penting juga apakah orangtua setuju jika sekolah tatap muka dilaksanakan?” kata dia.
Asli memahami banyak komentar terkait metode daring, namun pihaknya sudah mengusahakan opsi paling mudah. Dan tentunya dengan tidak mengambil risiko penularan wabah. “Tidak ada yang tidak terdampak. Semua kena. Jadi, memang harus dilewati bersama,” ujarnya.
Selain kondisi orangtua yang belum paham teknologi, disebutkan Asli di Samarinda masih ada 5–10 persen guru yang belum familiar dengan hal itu. Memang butuh penyesuaian. Suka tidak suka. Mau tidak mau. Orangtua diharapkan mampu berperan penuh.
Seperti yang dilakukan Agus Budi Utama, ayah Mohammad Raihan Al Aziz. Putranya itu baru masuk SD. Diakui jika metode daring tidak sepenuhnya efektif. Orangtua berperan besar dalam proses belajar. “Ada teks yang harus dibaca, ada jenis soal yang harus diisi. Kelemahan daring ya di situ, ketika diterapkan ke kelas 1, anak kelas 1 belum semua bisa baca. Dan belum lagi semua orangtua paham sistem pembelajaran daring,” ujarnya.
Orangtua lebih banyak fokus dalam membantu anak belajar khususnya di tingkat awal. Sehingga waktu untuk kegiatan lain menjadi tersita. Orangtua mesti bekerja ekstra. Beruntung karena Raihan sudah memahami kondisi. Tak mengeluh dengan kondisi pandemi. Semangat disiplin belajar diterapkan Agus untuk putranya. Meski diakui jenuh belajar pernah ada, namun dia berusaha membangun kebiasaan.
“Sebab, membangun kebiasaan itu tidak mudah. Termasuk disiplin belajar itu diterapkan. Lalu terbiasa dengan belajar daring ini,” ujarnya. Pria yang berprofesi guru itu memahami jika penyesuaian belajar bagi anak butuh proses.
Sebagai guru dan orangtua sekaligus, dia mengakui sistem daring kurang efektif. Namun, di tengah pandemi, penyesuaian kondisi jadi penting. Dia berharap, proses belajar-mengajar tetap harus berjalan. Disinggung mengenai aktivitas pembelajaran daring di sekolah, dia mengatakan jika membuat video sendiri. Alat peraga dia boyong ke rumah. Video itu dibagikan di grup WhatsApp kelas.
“Intinya yang memudahkan untuk orangtua dan murid. Kami terbuka juga untuk siswa yang kesulitan dalam belajar, intinya proses itu harus memudahkan,” ungkap pria yang sudah menjadi guru sejak 1992 di SMP 16 Samarinda itu.
Senada, Leni Yusnita mengaku kewalahan dalam membantu anaknya belajar secara daring. Saat tahun ajaran baru dimulai, guru kelas menawarkan opsi metode belajar. Ada tiga pilihan yakni menggunakan aplikasi Zoom Meeting, Google Meet, dan WhatsApp. “Ternyata paling banyak hampir 70 persen pilih WhatsApp. Itu yang akhirnya disepakati,” ujar ibu dari Elviana itu, kini anaknya duduk di bangku kelas 4 MI Sentra Cendikia Muslim Balikpapan.
Selain setor foto dan video praktik kegiatan anak, disebutkan jika dia sampai harus memasukkan dua nomor ke grup. “Jadi anak menonton video pembelajaran lalu mengerjakan tugas online. Nah, jawaban tugas itu banyak di video, agak ribet ketika tutup soal dan nonton tugas. Jadi izin ke gurunya masuk dua handphone,” ujarnya.
Disebutkan handphone suami untuk menonton video, handphone-nya untuk kerjakan soal. Tak hanya itu, sistem belajar yang hanya video dan tugas membuat Elviana jenuh. Hingga akhirnya Leni menyarankan sang guru untuk melakukan Zoom Meeting.
“Jenuh kan enggak ketemu teman-teman. Jadi ada kelasnya adakan Zoom sebulan sekali, biasanya mata pelajaran matematika yang pakai rumus,” sebut dia. Dalam proses belajar pun bergantian dengan suami mendampingi.
“Ya kadangkala kalau anak bingung enggak ketemu jawaban dan bosan belajar, saya yang bantu,” kata Leni. Jadwal belajar pun ditentukan sekolah sejak pagi hingga siang. “Menyesuaikan kondisi orangtua juga sih, intinya tugas dikumpul hari itu juga,” tambahnya. (rdm/ndu/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria