Masukkan Unsur Sejarah dalam Cerita Remaja

izak-Indra Zakaria • Dipublikasikan Jumat, 4 Maret 2022 | 14:45 WIB
Rizky dan Syifa
Rizky dan Syifa

JAKARTA – Belasan tahun berkutat di dunia perfilman, sutradara Hanung Bramantyo menjajal menggarap serial. Dalam series perdananya yang berjudul 17 Selamanya, Hanung mengangkat cerita drama semifantasi remaja yang dibumbui nilai sejarah.

Ditemui di The Plaza, Jakarta Pusat, kemarin (2/3), dia menuturkan bahwa itu merupakan salah satu siasatnya mengenalkan cerita sejarah di Indonesia. ’’Jadi, penting sekali ada kisah sejarah, tapi ceritanya tetap ringan. Biar nggak membosankan dan ada bobotnya. Ini sangat precious,’’ kata Hanung.

Dalam 17 Selamanya, Hanung menyematkan kisah Roro Jonggrang dan sejarah yang terjadi di Indonesia pada 1965. Ayah enam anak tersebut mengaku tidak khawatir memadukan dua unsur sejarah dalam satu cerita. Menurut dia, sejarah itu tidak kaku dan bisa dimodifikasi selagi tetap berada di jalurnya.

’’Sejarah itu bisa dimainkan, selama tidak dibelokkan. Maksudnya, sejarah masa lalu itu bukan harga mati,’’ jelasnya. Di sisi lain, sejarah Indonesia sudah mengalir deras di dalam darahnya. Terlebih, dia paham betul bahwa sejarah ditulis oleh mereka yang berkuasa. ’’Sekarang yang berkuasa di series ini kan saya,’’ ujarnya, lalu tertawa.

Country Head WeTV Indonesia Lesley Simpson setuju dengan penuturan Hanung. Menurut dia, ini adalah upaya timnya membuat gebrakan agar sejarah Indonesia dikenal di dunia. Atas dasar itu, pihaknya menggaet Hanung dan Jeihan Angga sebagai sutradara. ’’Nah, gimana caranya buat terobosan? Ya kita butuh orang yang paham sejarah di bidang hiburan,’’ papar Lesley.

Pemilihan casting pun dilakukan serius melalui sederet pertimbangan. Tidak sekadar memilih pemain yang muda dan terkenal. Lebih penting sesuai dengan karakter yang dibutuhkan.

Hanung menggaet pasangan kekasih Rizky Nazar (Putra) dan Syifa Hadju (Dawai) sebagai karakter utamanya. Syifa mengaku tertarik membintangi 17 Selamanya lantaran konsep cerita yang diangkat berbeda dengan proyek-proyeknya yang lalu. Biasanya, dia selalu mendapat peran menjadi gadis remaja yang menggemaskan. ’’Di sini aku jadi lebih dewasa dan bijaksana. Berat lah,’’ kata Syifa.

Di antara kesulitan yang dihadapinya saat syuting adalah ketika berdialog menggunakan bahasa baku saat menceritakan kisah masa lalu Dawai pada 1965. Syifa mengaku butuh effort lebih untuk bisa menghafal naskahnya. ’’Karena itu tentang sejarah, valid. Kalau ada miss, fatal kan? Jadi, nggak boleh salah dan aku harus benar-benar hafal,’’ ujarnya.

Sementara itu, perjuangan Rizky adalah menurunkan berat badan demi menjiwai karakternya yang anak SMA. Padahal, di kehidupan nyata, dia sudah lulus lima tahun lalu. Rizky menyadari postur tubuhnya yang kini menginjak angka 25 tahun berbeda dengan anak remaja. ’’Itu salah satu usaha dan tantangan yang aku lakuin. Ada lah sekitar 3–4 kilogram,’’ ungkap pemain film Satria Dewa: Gatotkaca itu.

Dia menyebut bahwa karakter Putra berbanding terbalik dengan kepribadiannya. Yang paling menonjol, Rizky tidak puitis seperti Putra. Selain mereka, 17 Selamanya melibatkan sederet artis lain seperti Steffi Zamora, Thomi Baraqbah, Silvester Rangga, Lola Monico, dan Ellisa Knapp.

17 Selamanya menceritakan tentang kedekatan Dawai dan Putra. Dawai merupakan gadis yang kerap jadi bahan perundungan di sekolahnya. Diam-diam, Putra menyimpan rasa kepada Dawai. Seiring berjalannya waktu, Putra dikejutkan oleh misteri yang disembunyikan rapat-rapat oleh Dawai selama puluhan tahun.

Kehidupan Dawai di masa lalu ternyata berkaitan dengan Putra, rahasia negara, dan sebuah legenda yang awalnya dikira takhayul. 17 Selamanya rencananya tayang di WeTV mulai 10 Maret. (shf/c17/ayi)

Editor : izak-Indra Zakaria