dr.Kevin Giovani Mandua
(Spesialis Bedah Orthopedi dan Traumatologi)
OSTEOARTRITIS merupakan gangguan kesehatan degeneratif. Terjadi kekakuan dan peradangan pada persendian yang ditandai dengan kerusakan rawan sendi. Sehingga dapat menyebabkan nyeri pada sendi tangan, leher, punggung, pinggang, dan yang paling sering adalah pada sendi lutut (Kalim & Wahono, 2019).
Osteoartritis merupakan salah satu penyakit sendi yang sering ditemukan pada orang dewasa. Diperkirakan terdapat sekitar 302 juta penderita di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS 2018) prevalensi penyakit sendi 7,3 persen dan osteoartritis adalah penyakit sendi yang paling sering terjadi.
Prevalensi penyakit ini bertambah sesuai dengan meningkatnya usia. Pada usia lebih dari 25 tahun, 13,9 persen dan menjadi 33,6 persen pada populasi usia lebih dari 65 tahun.
Meskipun penyakit ini sering terjadi pada orangtua, tetapi tidak menutup kemungkinan penyakit ini dapat terjadi pada usai remaja dan dewasa muda. Yakni pada usia 15-24 tahun. Angka kejadian mencapai 1,3 persen dan akan terus meningkat sesuai bertambahnya usia, pada usia 24-35 tahun angka kejadiannya mencapai 3,1 persen, dan pada usia 35-44 tahun mencapai 6,3 persen.
Terdapat tiga sendi utama yang paling sering mengalami osteoartritis. Yaitu sendi lutut, sendi panggul dan sendi pada jari tangan. Ciri khas kelainan pada Osteoartrits adalah melibatkan seluruh bagian sendi termasuk degradasi tulang rawan, bone remodelling, pembentukan osteofit dan inflamasi synovial (radang cairan sendi).
Penyebab dan Faktor Resiko Osteoartritis Lutut. Secara umum terdapat dua faktor risiko terjadinya Osteoartritis lutut. Yakni faktor predisposisi dan faktor biomekanik. Faktor predisposisi adalah faktor yang memudahkan seseorang terkena Osteoartritis lutut, sedangkan faktor biomekanik adalah faktor mekanik atau aktivitas tubuh yang membebani sendi lutut.
Beberapa faktor predisposisi yang berperan adalah : usia, jenis kelamin wanita, obesitas, faktor genetik, kekurangan vitamin D dan merokok. Sedangkan faktor biomekanik adalah riwayat trauma lutut, kelainan anatomi, aktifitas fisik berat, olahraga dan pekerjaan tertentu.
Terdapat beberapa gejala yang dirasakan pada seseorang yang menderita osteoarthritis lutut. Yaitu nyeri lutut. Kemudian sendi lutut terasa kaku. Lalu, fungsi Sendi menurun (berkurangnya kelenturan sendi). Hal ini menyebabkan penderita tidak mampu menggerakkan sendi secara maksimal atau rentang gerakan sendi terbatas. Hal ini menyebabkan penderita kesulitan merubah posisi dari duduk ke posisi berdiri ataupun sebaliknya, kesulitan untuk naik tangga dan lain-lain. Bunyi retak atau gerinda saat lutut digerakkan. Pembengkakan pada sendi lutut. Serta penurunan kekuatan otot dan sendi tidak stabil
Pengetahuan terhadap gejala-gejala osteoartritis lutut sangat diperlukan bagi masyarakat. Sehingga cepat ditangani secara medis. Pada dasarnya ada dua jenis pengobatan untuk osteartritis. Yakni pengobatan tanpa pembedahan (konservatif) dan pengobatan dengan pembedahan. Maksud pengobatan tanpa pembedahan adalah, terapi non farmakologis (tanpa obat).
Seperti program penurunan berat, latihan aerobic, dan fisioterapi. Ada pula terapi farmakologis dengan mengonsumsi beberapa jenis obat. Sementara terapi alternatif adalah, dapat dipertimbangkan dengan injeksi langsung ke dalam sendi menggunakan obat kortikosteroid atau viskosuplemen (Hyaluronat). Ada juga pengobatan dengan pembedahan.
Pada kasus osteoarthritis lutut yang berat atau dengan terapi farmokologis dan nonfarmakologis tidak memberikan hasil yang optimal, maka diperlukan terapi pembedahan. Untuk terapi ini perlu intervensi yang dilakukan oleh dokter spesialis bedah tulang. (Spesialis Bedah Orthopedi dan Traumatologi. (luc)
Editor : izak-Indra Zakaria