Gemar Baking Sejak Kecil

izak-Indra Zakaria • Dipublikasikan Senin, 15 Agustus 2022 | 09:54 WIB
Meity Moga Layuk
Meity Moga Layuk

Dulu, Meity kecil sering memerhatikan sang ibu membuat kue di dapur. Dia mengamati dan mempraktikkannya secara autodidak. Bahkan ketika merantau saat kuliah, oven adalah hal wajib untuk dibeli. Kini hobi itu berkembang dan dengan suka cita dia jalankan menjadi bisnis.

 

PILIHAN sekolah yakni saat jenjang SMP dan SMA mengharuskannya asrama, itu tandanya dia harus berhenti sementara untuk menyalurkan hobinya membuat kue. Lalu saat kuliah, dia merantau ke Bandung. Di sanalah dia mulai kembali memanggang.

"Dulu pikirannya sederhana sekali, ternyata tepung dikasih air dan dikasih gula itu bisa jadi kue. Jadi selama kuliah D-3 dan empat kali pindah kos, empat kali juga saya kasih oven ke ibu kosnya," kenang Meity lalu tertawa.

Keperawatan adalah jurusan yang dia ambil. Ketika menunggu masa tugas akhir, dia sempat bekerja di rumah sakit dan di bagian gizi. "Karena ada kayak bagian pastry gitu. Tapi enggak lama, sekitar enam bulan. Dan jujur cita-citanya itu mau jadi dokter sebenarnya dan pengin kerja di Amerika," lanjutnya.

Diakui jika teman-teman sekelasnya banyak yang mendapat kerja di luar negeri. Apalagi tergiur upah cukup tinggi. Namun dilematisnya, dia tak ingin jauh meninggalkan orang tua. Apalagi di antara tiga bersaudara, hanya dia yang berada di jurusan kesehatan.

Kebiasaan membuat kue terus dilakukan. Dia memilih lanjut S-1 di Jakarta, jurusan Kesehatan Masyarakat. Sebab ada peluang pekerjaan langsung, apalagi di perusahaan industri. Hal itu membawanya kembali merantau ke Kutai Barat hingga Kalimantan Barat.

"Jadi kerja di bagian Health, Safety, Environment (HSE). Terus ketika resign, ditanya mau hadiah apa, bilangnya mau oven. Nah, itu oven yang modal untuk usaha ketika ke Samarinda," papar perempuan kelahiran 1992 ini.

Dia mulai membuat aneka kue lagi pada 2020. Mulanya hanya untuk konsumsi pribadi. Sambil dibagikan ke tetangga sekitar. Responsnya cukup baik. Hingga ide untuk dijadikan bisnis pun muncul.

Bahkan diakui Meity, semua resep berawal dari autodidak serta trial and error. Kemudian dia coba jual secara online. Berawal dari teman-teman kantor sang suami. Mulanya hanya beberapa pesanan seperti kue bolu dan brownies. Hingga dia kewalahan karena hanya ditangani sendiri.

"Terus pernah dengar ceramah, kalau mau usaha bagus itu libatkan orang lain. Semacam mempekerjakan. Jadi coba lah cari tempat yang strategis. Dari situ kan juga jadi amal jariyah ketika kita mengajari orang lain,” ungkap ibu beranak dua itu.

Toko offline yang Meity beri nama Roti Marawa pun resmi dibuka pada Maret lalu. Antusiasnya diakui cukup baik. Ilmu bisnis juga dia lakoni seiring pengalaman. “Walau pernah pendapatan sehari itu cuma Rp 100 ribuan. Tapi ini alhamdulillah sudah punya target dan tercapai terus setiap harinya,” jelasnya.

RADEN RORO MIRA

@rdnrrmr

Editor : izak-Indra Zakaria