Belajar dari Teater

izak-Indra Zakaria • Dipublikasikan Minggu, 28 Agustus 2022 | 11:58 WIB
Astridienna Yanuarlin Muta’aly
Astridienna Yanuarlin Muta’aly

BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Seperti sang ibunda yang berkecimpung di dunia seni peran, pun demikian Astridienna Yanuarlin Muta’aly. Mahasiswi semester tujuh Prodi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini sedang mendalami seni teater. “Sedari kecil saya sudah gemar menonton sinetron. Kalau diingat-ingat, kala itu saya sering berbicara sendiri di depan kaca dan atau di kamar mandi,” tuturnya (26/6).

“Apalagi ibu saya dulunya anggota teater kampus. Tepatnya di Fakultas Hukum ULM. Ibu mendukung banget kalau saya juga ikut teater,” tambahnya. Dena, sapaan akrabnya, sekarang aktif di Teater Himasindo di fakultasnya.

Sejak menekuni dunia ini, Dena mengaku menjumpai banyak hal. Misalnya, belajar menghargai orang lain. Bagaimana pun kondisi atau status sosialnya. “Sebelum pementasan, kami mesti observasi. Bisa dengan turun ke jalan untuk menemukan sosok yang cocok dijadikan sebagai pedoman karakter,” jelasnya.

“Apalagi misalnya jika mendapat peran sebagai seseorang yang berkebutuhan khusus. Harus benar-benar menjiwai. Tidak bisa sembarangan membawakan peran itu,” lanjutnya.
Dalam prosesnya, Dena rajin mengikuti banyak lomba. Tak semuanya tentang teater. Ada lomba monolog, hingga lomba bercerita dalam bahasa Banjar.

Dari sekian banyak pementasan, Dena merasa yang paling berkesan adalah memainkan peran Amah dalam naskah ‘Sakalinya’. Dimainkan pada Januari 2022 di aula fakultas. “Amah adalah remaja SMA yang baru puber dan lagi centil-centilnya. Yang menyukai seseorang anak di kampungnya bernama Sadew. Itu yang benar-benar berkesan bagi saya,” tuturnya.

Dalam pandangan mantan Duta Inspirasi Kalsel 2021 itu, teater adalah kehidupan. Mengapa? Karena sebenarnya kehidupan yang dijalani ini juga sebuah sebuah pementasan.

Contoh sederhana, saat mengobrol. Dengan lawan bicara, tentu kita mengatur apa yang harus diucapkan. “Bagaimana ekspresi yang pas, bagaimana agar kata-kata yang diucapkan nyambung dengan lawan bicaranya,” jelasnya. Lebih jauh, tidak hanya berteater, mantan Wakil 2 Puteri Pariwisata Tabalong 2018 itu rupanya juga punya seabrek kesibukan lain.

Mulai dari membikin konten video, endorsement, hingga menjadi pelatih ekskul teater di SMAN 6 Banjarmasin. Lantas, bagaimana caranya membagi waktu? Dena mencatat apa saja yang harus dilakukannya. Setiap hari. “Dengan begitu, kegiatan kita bisa lebih terarah,” tutupnya. Sukses selalu ya, Dena! (war/gr/fud)

Editor : izak-Indra Zakaria