Kecintaannya pada musik mengantarkan Ana Saidatunnisa ke Istana Negara, menyanyi di depan presiden.
Perempuan kelahiran Barito Kuala 8 Maret 1997 ini setia menekuni dunia tarik suara. Rajin mengikuti lomba-lomba menyanyi dari level kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Pada 2019 lalu ia mewakili Kalimantan Selatan. Tergabung dalam Gita Bahana Nusantara. Ini paduan suara yang bertugas menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk mengiringi pengibaran bendera merah putih di istana. Pengalaman menyanyi di depan Presiden Joko Widodo pada 17 Agustus tersebut takkan pernah bisa Ana lupakan.
“Ulun (saya) seolah-olah hanya hidup untuk menyanyi saja,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin. Ana sudah menyanyi sejak di bangku sekolah dasar (SD). Saat kuliah pun ia memilih jurusan seni. Dia angkatan 2015 Prodi Sendratasik FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
“Saat TK pun sudah menyukai seni. Dulu awalnya ikut grup rebana,” kenangnya.
Tapi ia mulai serius bernyanyi saat menginjak SMA. Tepatnya setelah menjuarai Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) untuk kategori vokalis solo putri.
Jenjang demi jenjang ia ikuti dengan tabah. Sayang, di level nasional, langkahnya terhenti sebagai finalis. “Saat itu menyanyikan lagu-lagu pop,” ceritanya.
Namun, puncaknya adalah lulus seleksi Gita Bahana Nusantara. Dia mewakili Kalsel untuk suara alto. “Bersama tiga perwakilan lainnya, kami tampil bersama Gita Bahana Nusantara,” ujarnya.
Pada 2020, Ana juga masih tergabung di sana. Tapi karena pandemi, hanya bisa menyanyi secara virtual. “Kami hanya mengirimkan video sesuai arahan yang diminta,” jelasnya.
Ditanya siapa idolanya, Ana tak ragu menyebut Isyana Sarasvati. Rutinitasnya sekarang, selain mengajar mata pelajaran seni dan budaya sebagai guru honorer di SMAN 1 Bakumpai, Ana juga menjadi guru les privat.
“Saat ini juga mengajar ekstrakurikuler paduan suara di SMAN 1 Marabahan. Lalu mengisi les privat untuk anak-anak di Batola dan Banjarmasin,” sebutnya.
“Melatih vokal ini harus sabar. Karena yang dilatih masih anak-anak,” lanjutnya.
Untuk menyalurkan kesenangannya, Ana bergabung dalam Banjar Bakula. Band ini bisa memainkan lagu pop dan panting. Sudah tersohor di Marabahan.
Bahkan tembang Banjar yang dimainkan band ini, judulnya ‘Dundang Maingat Diri’, masuk dalam album lagu-lagu daerah yang diluncurkan Taman Budaya Kalsel.
Di tengah semua kesibukan itu, Ana memegang komitmen, prioritasnya adalah menjadi guru. Job ngeband atau les privat, tidak boleh mengganggu pengabdiannya di sekolah. (bar/gr/fud)