Nama Myrna Asnawati Safitri menjadi sorotan, khususnya publik Kaltim setelah dilantik Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Bambang Susantono, 13 Oktober 2022 lalu. Dirinya menjadi perempuan pertama yang diangkat menjadi sosok deputi dari tiga deputi yang dilantik pertama kali sejak OIKN berdiri. Sudah enam bulan Myrna mengemban amanah sebagai deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN. Saat ditunjuk sebagai deputi, dirinya masih deputi di Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. Ada permintaan untuk mendukung OIKN terutama untuk menjadi representasi Kaltim.
“Tentu itu sebuah kepercayaan yang harus diterima. Saya sudah merantau 35 tahun dan sepertinya Tuhan menunjukkan jalan, bahwa sudah tiba saatnya saya pulang. Meski tugas membangun IKN apalagi urusan lingkungan ini sangat berat, saya memutuskan untuk menerima karena ingin menjadi bagian dari sejarah penting Indonesia sekaligus memberikan sumbangsih untuk perbaikan lingkungan,” kata Myrna kepada Kaltim Post, Kamis (20/4).
Myrna mengatakan, peringatan Hari Kartini adalah salah satu momen penting bagi perempuan seperti dirinya. Secara pribadi, Raden Adjeng (RA) Kartini disebutnya sebagai tokoh yang memiliki pemikiran dan keberanian untuk menyuarakan pemikiran tersebut. Padahal kala itu, ketika Indonesia belum merdeka, hal tersebut adalah sulit dilakukan, apalagi oleh seorang perempuan. “Buat saya yang mengesankan dari sosok RA Kartini adalah independensi dalam pemikiran serta keberanian menyuarakan pemikiran. Pada masanya ini hal yang sulit. Bahkan, sampai saat ini mungkin masih banyak perempuan yang kurang memiliki keberanian menjadi dirinya sendiri. Membebaskan pemikiran dan mewujudkan apa yang dipikirkannya,” sebut akademisi dan peneliti itu.
Myrna menjelaskan, cara perempuan berpikir dan bertindak terlalu banyak didikte oleh faktor-faktor eksternal. Karena itu, perempuan jadi kehilangan kontrol terhadap pemikirannya. “Akhirnya, menjadi takut berbeda. Ingin dilihat “baik” karena selaras dengan arus besar pemikiran yang diproduksi oleh orang lain tentang bagaimana perempuan seharusnya bertindak,” sebutnya. Myrna pun menceritakan, bagaimana dirinya bisa sampai di posisinya saat ini. Lahir dan besar di Samarinda, Myrna setelah lulus dari SMA di SMA 1 Samarinda berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Lalu, melanjutkan S-2 Antropologi di Universitas Indonesia (UI), dan S-3 Hukum di Universitas Leiden Belanda.
Sewaktu mengambil S-2 di UI, dirinya juga bekerja sebagai peneliti di Program Penelitian Antropologi Ekologi di bawah Pascasarjana UI. Di sana menjadi peneliti hingga manajer program selama 10 tahun. “Lalu saya sekolah ke Belanda. Menjelang selesai S-3, saya menjadi direktur di sebuah LSM. Namanya Epistema Institute. Ini adalah LSM riset untuk hukum, lingkungan, dan kemasyarakatan. Setelah selesai S-3 di Belanda tahun 2011, saya menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi, terakhir di Fakultas Hukum Universitas Pancasila hingga sekarang. Saya mengajar Hukum Lingkungan, Hukum Tata Ruang dan Filsafat Hukum,” ungkapnya.
Myrna juga pernah menjadi konsultan di beberapa lembaga internasional serta terlibat sebagai tim pembaruan kebijakan lingkungan di beberapa kementerian. Pada Februari 2016, Myrna pun diminta menjadi deputi di Badan Restorasi Gambut RI (BRG). Ini adalah pengalaman pertamanya sebagai pejabat tinggi madya di lembaga pemerintahan. Kemudian di 2021, ketika BRG menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) saya kembali deputi, mengurus hal yang sama, yakni edukasi, sosialisasi, partisipasi, dan kemitraan. “Karier saya bermacam-macam diwarnai dengan berbagai profesi, yakni sebagai akademisi, aktivis LSM dan pejabat di pemerintahan. Semuanya berkaitan dengan hal yang sama, yakni lingkungan hidup,” ungkap penyuka eksplorasi tempat baru, kebudayaan, dan kuliner tersebut.
Dipandang sebelah mata karena seorang perempuan pun tidak lepas dari sosok Myrna. Namun, dirinya tidak memusingkannya. Karena dia percaya, bahwa kalau ada kemampuan dan mampu mengaktualisasikannya. Maka pada akhirnya, orang akan melihatnya dari kemampuan, bukan lagi dari atribut gender dan budaya yang ada. “Saya meniti karier umumnya dengan bersandar pada kemampuan bukan pada privilege. Saya terbiasa berkompetisi atas dasar kemampuan. Orang tidak melihat saya anak siapa dan berasal dari mana. Karena itu soal diremehkan, diapresiasi, dan lainnya, buat saya jadi biasa saja. Kalau kualitas kerja kita buruk ya, risiko diremehkan akan muncul dan sebaliknya, jika baik maka apresiasi akan datang,” sebutnya.
Intinya, dia menganggap sebenarnya bukan mencari apresiasi itu, tapi terus memacu diri untuk membuat perbaikan pada apa yang dikerjakan. “Lepas dari ada pengakuan orang lain atau tidak,” imbuhnya. Diakuinya, meski secara umum Indonesia sudah maju dan mengedepankan kesetaraan gender, namun kentalnya sistem patriarki masih dirasakan di banyak lini dunia pekerjaan. Bahkan dia merasakan langsung efek tersebut. “Tentu saja pernah. Budaya patriarki itu memang masih kuat. Saya pernah kehilangan beberapa kesempatan karena saya perempuan. Tapi, itu sekaligus menjadi cambuk juga menunjukkan bahwa kita mampu,” ungkapnya.
Menjadi deputi di dua lembaga berbeda urusannya sama berat. Memulihkan lingkungan yang rusak. Pasti banyak tantangan. Apalagi, urusan ini sarat dengan dunia yang maskulin. Dia percaya bahwa kerusakan lingkungan yang ada ini karena kuatnya paham antroposentrik yang menempatkan alam untuk melayani semua keinginan manusia yang tak terbatas. Lain dari itu, kerusakan juga terjadi ketika paham maskulin yang cenderung ingin menaklukkan sesuatu itu juga kuat. “Karena itu, dalam memulihkan lingkungan yang rusak itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah cara pandang. Dari penaklukan menjadi merawat (nurturing). Kecenderungan merawat ini lebih kuat pada perempuan. Laki-laki juga ada tapi tampaknya tidak sekuat perempuan. Mungkin karena naluri sebagai ibu ya yang membuat perempuan lebih kuat dengan kemampuan merawat ini,” jelasnya.
Karena itu dirinya melihat pentingnya paham ekofeminisme digunakan dalam hal ini. Dengan menganut paham ekofeminis inilah, dia dalam menjalankan tugas melihat sangat tepat menjadi kerangka berpikir terkait lingkungan yang rusak ini. Sejak 2016, bertugas memulihkan lingkungan yang rusak, Myrna belajar banyak bahwa ini akan mudah dilakukan jika semangat merawat itu yang dikedepankan. Dalam hal ini, perempuan menjadi penyokong utama. Karena itulah, dalam program-program yang jadi tanggung jawab dirinya, selalu diusahakan agar peran perempuan itu diberikan ruang.
“Dulu, ketika saya bertugas di BRG/BRGM misalnya, saya punya kegiatan pemberdayaan kelompok petani dan perajin perempuan. Mereka didukung untuk melakukan penyelamatan ekosistem melalui kegiatan pertanian ramah lingkungan, dan sustainable fashion melalui produk kerajinan dan wastra dengan pewarna alam. Filosofi penting dari kegiatan itu adalah dengan aktivitas tersebut maka muncul dorongan menanam tumbuhan yang diperlukan. Inilah yang disebut dengan semangat nurturing the nature atau merawat alam,” bebernya. Konsep yang kurang lebih sama akan dilakukan juga di IKN.
Misalnya, saat ini sedang menggodok kegiatan urban farming di mana perempuan akan mendapat ruang yang cukup untuk berkontribusi. Bagi Myrna, membebaskan pemikiran dan jangan ragu meninggalkan zona nyaman untuk mencoba tantangan baru adalah suatu kunci bagi seorang wanita karier seperti dirinya. “Jalani proses kehidupan dengan rendah hati dan reflektif. Karena tetap ada tangan Tuhan yang akhirnya menentukan jalan hidup kita,” ucapnya. (riz/k15)
M RIDHUAN
mad.dhuan@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria