TANA TORAJA – Komika kenamaan Pandji Pragiwaksono akhirnya menunaikan janjinya untuk menyelesaikan sengketa terkait materi komedi yang dinilai menyinggung masyarakat Toraja. Didampingi kuasa hukumnya, Haris Azhar, Pandji hadir langsung ke Tongkonan Layuk Kaero, Tana Toraja, untuk menjalani peradilan adat Ma’ Buak Burun Mangkaloi Oto pada Selasa (10/2/2026).
Mengenakan pakaian rapi, Pandji tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WITA. Di hadapan 32 perwakilan tokoh adat Toraja, ia secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas materi lawakan dalam pertunjukan stand-up comedy bertajuk "Mesakke Bangsaku" yang dianggap merendahkan martabat dan tradisi masyarakat setempat.
Dalam pembelaannya, Pandji menegaskan bahwa materi tersebut tidak dilandasi oleh niat jahat untuk menghina. Ia mengaku bahwa candaan tersebut muncul karena murni ketidaktahuan dan sudut pandangnya yang terbatas sebagai orang luar Toraja. Ia menyadari bahwa sebagai seorang komedian, dirinya seharusnya lebih bijak dalam melihat sebuah tradisi melalui perspektif pemilik budaya itu sendiri.
"Harusnya saya memakai kacamata Toraja untuk melihat Toraja dari sisi yang lainnya juga," ungkap Pandji dengan nada penuh penyesalan di hadapan para tetua adat.
Sidang berlangsung secara interaktif melalui dialog antara para tokoh adat dan Pandji. Meski suasana sempat serius, Pandji mengaku terkesan dengan keterbukaan dan cara masyarakat Toraja menyambutnya. Ia menyatakan tidak menyangka akan mendapatkan sambutan yang begitu hangat meskipun dirinya hadir dalam kapasitas sebagai pihak yang sedang menjalani persidangan adat.
Jalannya peradilan hukum adat ini mendapatkan pengawalan ketat dari aparat kepolisian setempat serta para pemuda adat untuk memastikan situasi tetap kondusif. Langkah Pandji untuk hadir langsung di Tongkonan dinilai sebagai preseden positif dalam menyelesaikan konflik budaya melalui jalur kearifan lokal tanpa harus berujung pada proses pidana formal.
Dengan selesainya prosesi ini, perselisihan yang sempat memanas sejak tahun lalu tersebut diharapkan berakhir dengan damai. Kehadiran Pandji di Tanah Toraja menjadi simbol pentingnya menghargai keberagaman budaya Indonesia, sekaligus pengingat bagi para pelaku industri kreatif untuk lebih berhati-hati dalam mengolah isu sensitif di ruang publik. (*)
Editor : Indra Zakaria