Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Selesaikan Polemik dengan Denda Adat, Pandji Pragiwaksono: Saya Salah Persiapan dan Kurang Matang

Redaksi Prokal • 2026-02-11 08:45:00
Komika Pandji Pragiwaksono. (Instagram: pandji.pragiwaksono)
Komika Pandji Pragiwaksono. (Instagram: pandji.pragiwaksono)

TANA TORAJA – Komika Pandji Pragiwaksono secara resmi menjalani prosesi sidang adat di Tongkonan Layuk Kaero, Tana Toraja, pada Selasa (10/2/2026). Sidang ini merupakan buntut dari materi stand up comedy miliknya yang dinilai menyinggung perasaan masyarakat Toraja beberapa waktu lalu. Didampingi kuasa hukumnya, Haris Azhar, Pandji hadir untuk mempertanggungjawabkan ucapannya di hadapan 32 perwakilan tokoh adat Toraja.

Dalam putusan sidang adat tersebut, Pandji dinyatakan bersalah dan dijatuhi denda berupa satu ekor babi serta lima ekor ayam. Sanksi ini diterima Pandji sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus simbol rekonsiliasi antara dirinya dengan masyarakat adat Toraja.

Di hadapan para tetua adat, Pandji mengungkapkan penyesalan mendalam dan mengakui bahwa lawakan tersebut lahir dari persiapan yang kurang matang. Ia menjelaskan bahwa materi tersebut disusun berdasarkan perspektif orang luar yang hanya merujuk pada jurnal-jurnal literatur tanpa memahami esensi tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Pandji pun jujur mengakui bahwa dirinya belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Toraja sebelum kasus ini bergulir.

"Niat saya adalah mengingatkan seluruh orang Indonesia bahwa terhadap satu buah isu, kita tidak bisa melihat hanya dari satu sudut pandang. Namun, dalam bentuk pertunjukannya, saya rasa ada kesalahan sebagai hasil dari persiapan yang kurang matang," ujar Pandji di hadapan para tokoh adat.

Pandji menegaskan bahwa esensi dari profesinya sebagai pelawak adalah membuat hati orang bahagia, bukan merendahkan martabat atau tradisi budaya mana pun. Ia merasa bersyukur karena alih-alih mendapatkan penolakan keras, masyarakat Toraja justru memberikan teguran melalui jalur adat yang mendidik. Baginya, kunjungan langsung ini menjadi momen berharga untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam.

Dengan rampungnya sidang adat ini, ketegangan yang sempat menyita perhatian publik tersebut berakhir dengan damai. Pandji berharap pengalaman ini menjadi pelajaran besar bagi dirinya untuk lebih berhati-hati dan melakukan riset mendalam sebelum mengangkat isu-isu sensitif terkait identitas dan budaya di masa depan.

Kekaguman Pandji terhadap sambutan hangat para tokoh adat menjadi penutup manis dalam persidangan tersebut. Ia berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian adat dan tradisi Indonesia dengan perspektif yang lebih inklusif dan menghargai "kacamata" lokal. (*)

Editor : Indra Zakaria