NEW YORK – Meski berhasil meraup angka fantastis sebesar $5,4 juta (sekitar 83 miliar rupiah) dalam lelang di Sotheby’s, langkah Sylvester Stallone menjual koleksi langkanya justru memicu ketegangan di industri jam tangan mewah. Presiden Patek Philippe, Thierry Stern, secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap sang aktor legendaris yang dianggap telah melakukan praktik flipping atau menjual kembali barang demi keuntungan singkat.
Kemarahan pihak Patek Philippe bukan tanpa alasan. Model Grand Master Chime merupakan mahakarya yang membutuhkan sekitar 100.000 jam kerja untuk diproduksi dan memiliki 20 komplikasi teknis yang sangat rumit. Karena tingkat kelangkaannya, jam ini biasanya hanya diberikan kepada kolektor setia yang telah mengantre bertahun-tahun. Thierry Stern menilai aksi Stallone tidak adil bagi para klien setia lainnya yang sangat menginginkan jam tersebut untuk dinikmati sebagai karya seni, bukan komoditas investasi.
"Sangat tidak adil bagi klien yang mungkin telah menunggu selama bertahun-tahun, lalu melihat unit tersebut langsung dijual kembali," ungkap Stern dalam wawancara baru-baru ini.
Strategi Kolektor atau Sekadar "Pemain" Harga?
Sorotan tajam juga tertuju pada kondisi jam tangan tersebut saat dilelang. Stallone menjual Patek Philippe miliknya dalam kondisi tersegel rapat di dalam kantong plastik aslinya—sebuah tanda bahwa jam tersebut tidak pernah sekalipun dipakai atau bahkan sekadar dikeluarkan dari kemasannya sejak dibeli beberapa tahun lalu.
Dalam dunia kolektor, menjaga segel tetap utuh adalah strategi klasik para flipper untuk mendongkrak harga jual kembali agar tetap setinggi harga barang baru. Sebagai kolektor berpengalaman, Stallone tentu memahami bahwa plastik pelindung yang belum terbuka akan menambah nilai tawar jutaan dolar di meja lelang. WatchPro memperkirakan Stallone berhasil mengantongi keuntungan bersih hingga $2 juta (31 miliar rupiah) dari selisih harga retail ke harga lelang.
Langkah Stallone yang menjual jamnya dalam lelang publik yang sangat terekspos media dianggap sebagai tindakan yang cukup berani sekaligus berisiko. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan pecinta horologi bahwa merek-merek high-end seperti Patek Philippe atau Rolex sangat tidak menyukai pelanggan yang langsung menjual kembali koleksi "panas" mereka.
Konsekuensinya pun nyata. Para kolektor yang terdeteksi melakukan praktik ini biasanya akan masuk dalam daftar hitam dan kehilangan kesempatan untuk membeli koleksi langka dari merek tersebut di masa depan. Meski Stallone adalah bintang besar, etika di dunia kolektor kelas atas tetap menjunjung tinggi rasa hormat terhadap karya seni dibandingkan keuntungan materi semata. Kini, publik pun bertanya-tanya apakah pintu Patek Philippe akan tetap terbuka bagi sang aktor di masa mendatang. (*)
Editor : Indra Zakaria