GAWIYAN Angkat Isu Identitas Dayak Lewat Program Artist Residency di Raya Budaya Etam 2026

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 19:40 WIB
Artist Residency “Dayak Eksodus: Jejak Tanah, Identitas, dan Perubahan” pada ajang Raya Budaya Etam 2026 yang berlangsung di Hotel Harris Samarinda.
Artist Residency “Dayak Eksodus: Jejak Tanah, Identitas, dan Perubahan” pada ajang Raya Budaya Etam 2026 yang berlangsung di Hotel Harris Samarinda.

SAMARINDA – Yayasan Genta Warisan Budaya Alam Nusantara (GAWIYAN) menghadirkan pendekatan baru dalam pelestarian budaya melalui program Artist Residency “Dayak Eksodus: Jejak Tanah, Identitas, dan Perubahan” pada ajang Raya Budaya Etam 2026 yang berlangsung di Hotel Harris Samarinda.

Program tersebut menjadi salah satu rangkaian dalam festival budaya terbesar di Kalimantan Timur dengan menghadirkan residensi seni yang melibatkan tiga pelukis untuk tinggal, melakukan riset lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, serta menghasilkan karya yang berangkat dari dinamika kehidupan masyarakat Dayak di tengah perubahan sosial, budaya, dan lingkungan.

Producer Program GAWIYAN, Fatqurozi, mengatakan konsep “Dayak Eksodus” lahir dari keinginan menghadirkan karya seni yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi dokumentasi budaya yang lahir dari pengalaman langsung para seniman di lapangan.

“Kami ingin para seniman tidak sekadar datang untuk melukis, tetapi hidup bersama masyarakat, mendengar cerita mereka, memahami perubahan yang terjadi, lalu menerjemahkan seluruh pengalaman itu menjadi karya seni. Dengan cara itu, karya yang lahir bukan hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga menjadi media edukasi dan ruang refleksi bagi publik,” ujarnya, Jumat (24/7).

Menurut Fatqurozi, istilah “eksodus” dalam program tersebut tidak dimaknai sebagai perpindahan atau meninggalkan kampung halaman, melainkan perjalanan untuk menemukan kembali jejak identitas, memaknai hubungan masyarakat Dayak dengan tanah leluhur, serta membaca perubahan yang sedang berlangsung di Kalimantan.

Selama residensi berlangsung, para seniman akan melakukan riset bersama tokoh adat, budayawan, akademisi, komunitas lokal, hingga masyarakat. Seluruh proses kreatif itu nantinya dipresentasikan kepada publik melalui pameran karya, workshop budaya, dialog publik, serta sesi interaksi terbuka bersama para seniman.

Sementara itu, Pembina Yayasan GAWIYAN, Marliana Wahyuningrum, mengatakan keikutsertaan GAWIYAN dalam Raya Budaya Etam 2026 merupakan bentuk komitmen untuk memperkuat pelestarian budaya melalui pendekatan yang kreatif, kolaboratif, dan berbasis riset.

Menurutnya, seni memiliki peran penting sebagai media untuk merekam ingatan kolektif masyarakat sekaligus membangun kesadaran generasi muda terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

“Melalui program ini kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat bahwa budaya Dayak bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi bagi masa depan. Kami berharap kolaborasi antara seniman, masyarakat, akademisi, dan komunitas mampu melahirkan karya-karya yang memperkuat identitas budaya Kalimantan Timur,” kata Marliana.

Selain menghadirkan karya hasil residensi, GAWIYAN juga menyelenggarakan pameran lukisan, workshop budaya, dialog publik, serta berbagai kegiatan edukatif yang memungkinkan pengunjung menyaksikan secara langsung proses kreatif para seniman selama pelaksanaan Raya Budaya Etam 2026 di Hotel Harris Samarinda.

Program ini didukung oleh Tiwi Latifffah sebagai Producer Event, Zaenal Abidin sebagai perwakilan artist sekaligus pelukis, Bisri Mustafa sebagai perwakilan pengurus yayasan, serta Mira Farenola sebagai Bendahara Yayasan.

Melalui Artist Residency “Dayak Eksodus: Jejak Tanah, Identitas, dan Perubahan”, GAWIYAN berharap seni dapat menjadi jembatan yang menghubungkan sejarah, identitas, dan masa depan masyarakat Dayak, sekaligus memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai pusat tumbuhnya gagasan-gagasan budaya yang berakar pada kearifan lokal. (fnd)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Dayak samarinda