Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

IKN Butuh Interkonektivitas Kalimantan, Begini Alasannya Menurut Jimly Asshidiqie

Dina Angelina • 2024-06-27 12:15:00
DORONG PEMBANGUNAN TERTATA: Jimly menuturkan para intelektual di Kaltim bisa memberikan hasil pemikiran dan mendorong pembangunan interkonektivitas Kalimantan. (Foto: Dina/KP)
DORONG PEMBANGUNAN TERTATA: Jimly menuturkan para intelektual di Kaltim bisa memberikan hasil pemikiran dan mendorong pembangunan interkonektivitas Kalimantan. (Foto: Dina/KP)

 

Pemerintah menggadang-gadang Ibu Kota Nusantara (IKN) akan menjadi smart city dan forest city. Ibu kota yang ramah lingkungan dan modern. Padahal pembangunan tidak semata-mata hanya fisik. Pembangunan manusia juga memiliki peran penting dalam keberlangsungan ibu kota negara di masa mendatang.

Pakar ahli hukum tata negara Jimly Asshidiqie menyinggung soal pembangunan IKN yang sibuk mengundang investor asing. Menurutnya keberadaan investor asing juga harus selektif. Jangan sampai mereka hanya melakukan pembangunan di Kaltim, bukan membangun Kalimantan.

“Karena ini hal yang berbeda. Kalau pembangunan di Kaltim, mereka cuma numpang membangun. Tapi tidak ikut benar-benar membangun Kaltim,” ucapnya saat menghadiri diskusi Mulia Gathering yang berlangsung di Ballroom Cheng Ho Universitas Mulia, Selasa (25/6). 

Sedangkan hal yang penting dalam pembangunan IKN juga turut membangun masyarakat. Dia memberi contoh selama 79 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, terlihat petani dan nelayan paling banyak hanya tamat SD dan SMP. Anak-anak mereka memang berhasil mengenyam pendidikan tinggi.

“Namun akhirnya memilih bekerja di kota dan tidak mau kembali ke desa. Kualitas SDM baik petani dan nelayan rasanya masih sama seperti sebelum kemerdekaan,” imbuhnya. Sebab pemerintah hanya membangun sektor perikanan atau pertanian, tapi bukan berfokus pada membangun manusia. 

Maka dia berharap, IKN tidak mengulangi hal yang sama. Jimly mendorong para intelektual di Kaltim bukan hanya memberikan kritik. Namun ikut membangun konsep dan menyumbangkan pemikiran. Salah satunya yang mendesak, intelektual mendorong interkonektivitas Kalimantan.

Ini blueprint pembangunan jangka panjang agar seluruh daerah di Kalimantan saling terkonektivitas. Sehingga IKN bisa terbangun dengan dukungan dari kabupaten/kota daerah di Kalimantan. Hasil pemikiran intelektual bisa disumbangkan kepada gubernur hingga akhirnya bisa berada di tangan presiden.

Sehingga perhatian kepada pembangunan manusia di Kalimantan bisa menjadi proyek strategis nasional. Menurutnya Kalimantan selalu diabaikan selama 70 tahun. Bahkan banyak sejarah dari Kalimantan yang terlupakan. Mengantisipasi itu, Jimly mengajak para intelektual membangun peradaban manusia baru bersama.

Tujuannya agar IKN tidak berdiri sendiri, namun tetap terhubung dari kota penunjang. “Intelektual harus mendorong interkonektivitas Kalimantan sesuai faktor ekonomi, sosial, budaya, politik,” tuturnya. Sehingga keberlangsungan IKN sebagai peradaban baru berjalan baik. 

Pembangunan fisik IKN saja bertahap, perlu waktu panjang sampai 2045. Apalagi pembangunan manusia. Jimly menuturkan, walau wilayah IKN sudah ditetapkan berada di PPU. Namun faktanya peran ibu kota sesungguhnya dipegang oleh Balikpapan. 

“Balikpapan akan menjadi ibu kota real atau interim selama 15 tahun sampai nanti IKN benar-benar berjalan maksimal pada 2045,” ujarnya. Mengingat semua aktivitas melalui Kota Beriman. Misalnya untuk arus penumpang bisa memanfaatkan Bandara SAMS Sepinggan dan Pelabuhan Semayang. 

“Tamu turun di sini, ada banyak pilihan hotel dan destinasi. Jadi harus ada desain juga untuk pemerintahan kota ini,” imbuhnya. Dia berharap ini sejalan dengan pemikiran kepala daerah. Baik wali kota Balikpapan dan gubernur Kaltim. Itu penting sekali untuk masa depan Bumi Etam. (gel)

 

 
Editor : Indra Zakaria