Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menyeimbangkan Beton dan Alam: IKN Bangun Jembatan Khusus Satwa Demi Wujudkan Kota Hutan Berkelanjutan

Redaksi Prokal • 2026-02-22 12:30:00

Otorita IKN membangun koridor satwa liar dan mengembangkan hutan endemik Kalimantan di kawasan IKN.
Otorita IKN membangun koridor satwa liar dan mengembangkan hutan endemik Kalimantan di kawasan IKN.

SEPAKU – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur kini tidak lagi sekadar tentang kemegahan infrastruktur dan gedung pemerintahan. Otorita IKN menegaskan komitmennya untuk menempatkan perlindungan satwa liar dan pemulihan hutan endemik sebagai jantung dari pembangunan ibu kota baru. Melalui konsep forest city (kota hutan), IKN dirancang untuk menjadi model kota modern yang hidup berdampingan secara harmonis dengan ekosistem asli Kalimantan.

Salah satu langkah nyata yang kini menjadi perhatian adalah pembangunan jembatan koridor satwa di atas jalan tol IKN. Infrastruktur unik ini dirancang khusus agar hewan-hewan liar tetap memiliki jalur perlintasan yang aman tanpa terganggu oleh hiruk-pikuk arus kendaraan. Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Keamanan dan Keselamatan Publik, Edgar Diponegoro, menekankan bahwa habitat alami tidak boleh dikorbankan demi pembangunan jalan tol.

"IKN tetap memberikan ruang bagi perlindungan satwa liar. Koridor satwa ini dibangun untuk menjamin keselamatan satwa yang melintas dan berhabitat di kawasan tersebut," ujar Edgar saat memberikan keterangan di Sepaku, Penajam Paser Utara, Jumat (20/2/2026). Komitmen ini selaras dengan amanat undang-undang yang membatasi luas pembangunan maksimal hanya 25 persen, sementara 65 persen wilayah lainnya wajib dipertahankan sebagai kawasan hijau.

Namun, upaya mengembalikan kejayaan hutan tropis Kalimantan bukan tanpa tantangan. Direktur Pengembangan Pemanfaatan Kehutanan dan Sumber Daya Air Otorita IKN, Onesimus Patiung, mengakui bahwa banyak plasma nutfah atau bahan genetik tumbuhan asli yang hilang akibat sejarah penebangan liar dan kebakaran hutan di masa lalu. Untuk mengatasi hal tersebut, Otorita IKN kini tengah membangun pusat plasma nutfah dan museum dokumentasi keanekaragaman hayati di Persemaian Mentawir.

Pusat konservasi di Mentawir ini diproyeksikan menjadi "bank kehidupan" bagi spesies endemik, termasuk tanaman khas hutan kerangas yang tumbuh di tanah berpasir pesisir. Dengan menanam kembali jenis tumbuhan lokal, pemerintah berharap dapat membentuk kembali iklim mikro yang sesuai dengan karakteristik ekosistem asli Kalimantan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa IKN berusaha memutus stigma pembangunan yang merusak alam. Lewat perpaduan teknologi jembatan satwa dan penguatan pusat riset plasma nutfah, ibu kota baru Indonesia ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat administrasi negara, tetapi juga menjadi benteng terakhir bagi kelestarian flora dan fauna endemik Borneo di masa depan. (*)

Editor : Indra Zakaria