NUSANTARA – Selama puluhan tahun, Pulau Kalimantan melekat kuat dalam memori kolektif dunia sebagai paru-paru bumi yang didominasi hutan hujan tropis serta habitat berbagai flora dan fauna endemik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, narasi tersebut mengalami pergeseran masif. Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur kini secara nyata mentransformasi citra pulau ini menjadi simbol modernitas sekaligus wajah baru bagi masa depan peradaban Indonesia.
Sejak pemerintah menetapkan Nusantara sebagai ibu kota negara melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022, nama Kalimantan kian menjelma menjadi magnet utama pemberitaan nasional maupun internasional. Pemberitaan yang berkembang tidak lagi sekadar berkutat pada isu lingkungan, melainkan sudah bergeser ke arah pembentukan pusat pertumbuhan ekonomi baru, arus investasi yang masif, hingga pengerjaan proyek-proyek strategis berskala raksasa.
Gagasan memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta sebenarnya merupakan impian lama para pendiri bangsa. Pada akhir 1950-an, Presiden Soekarno pernah menggagas pemindahan ibu kota ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, meski rencana besar tersebut belum sempat terealisasi. Langkah konkret baru benar-benar terwujud pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo ketika pemerintah secara resmi mengumumkan pemindahan ibu kota ke wilayah administratif Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara pada 26 Agustus 2019. Langkah historis ini kemudian diperkuat oleh payung hukum UU Nomor 3 Tahun 2022 yang menyematkan nama "Nusantara" bagi sang ibu kota baru.
Berdasarkan Rencana Induk IKN yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 dan diperbarui melalui Perpres Nomor 75 Tahun 2024, terdapat sejumlah parameter utama mengapa Kalimantan Timur akhirnya terpilih. Salah satu alasan terkuatnya adalah posisi geografisnya yang berada tepat di wilayah tengah Indonesia, sehingga dinilai sangat adil dan representatif dalam mengusung konsep pembangunan yang Indonesia-sentris. Selain itu, wilayah ini terletak di luar jalur cincin api (Ring of Fire), yang membuatnya memiliki risiko gempa bumi dan letusan gunung berapi yang relatif rendah. Kaltim juga memiliki hamparan lahan yang sangat luas untuk pengembangan jangka panjang, ketersediaan sumber daya air yang memadai, serta didukung penuh oleh kesiapan infrastruktur dari dua kota utama di sekitarnya, yaitu Balikpapan dan Samarinda selaku kawasan penyangga.
Sejak peletakan titik nol pembangunan pada 2022, IKN terus berkembang menjadi salah satu proyek infrastruktur terbesar dalam sejarah modern Indonesia di bawah kendali Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Di atas total lahan kawasan Nusantara yang mencapai 256.142 hektare, pengerjaan awal difokuskan pada Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) seluas 6.671 hektare. Saat ini, lanskap KIPP telah berubah secara drastis dengan berdirinya sejumlah fasilitas monumental, mulai dari Istana Negara dan Istana Garuda, Plaza Seremoni, Gedung Otorita IKN, Istana Wakil Presiden, hingga kompleks Kantor Kementerian Koordinator. Kawasan tersebut juga sudah dilengkapi dengan Rumah Susun ASN, fasilitas pertahanan-keamanan, Hotel Nusantara, serta embung dan ruang terbuka hijau yang tertata rapi.
Pengerjaan untuk fase berikutnya kini terus dikebut di lapangan. Target pembangunan selanjutnya meliputi infrastruktur krusial seperti Masjid Negara IKN, Basilika Nusantara, pusat pendidikan, rumah sakit internasional, hingga pusat bisnis global. Seluruh mobilitas di dalam kota dirancang menggunakan sistem transportasi ramah lingkungan berbasis bus listrik serta jalur pedestrian yang nyaman. Demi menjaga keberlanjutan lingkungan, tata ruang seluruh kawasan ini secara ketat memadukan tiga pilar utama, yakni konsep forest city (kota hutan), smart city (kota cerdas), dan sponge city (kota spons).
Proyek monumental dengan estimasi nilai investasi mencapai Rp466 triliun ini mengombinasikan skema pembiayaan yang sangat terukur. Pemerintah menargetkan hanya sekitar 20 persen dari total dana yang bersumber langsung dari APBN. Sementara itu, porsi terbesar sisa pendanaannya akan bertumpu pada kolaborasi investasi swasta, skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta kontribusi aktif dari BUMN.
Pada akhirnya, kehadiran IKN terbukti sukses merevolusi perspektif publik secara global terhadap Pulau Borneo. Jika dahulu Kalimantan hanya identik dengan keanekaragaman hutan tropis, kekayaan kebudayaan Dayak, dan eksploitasi sumber daya alam bawah tanah, kini dunia memandangnya dengan cara yang jauh berbeda. Kalimantan telah menjelma menjadi pusat gravitasi pemerintahan yang modern dan simbol kemajuan peradaban masa depan Indonesia.(*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co