PENAJAM PASER UTARA – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, tak hanya memacu kecepatan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan kenyamanan dan keamanan para penggerak pembangunannya. Saat ini, sebanyak 4.302 pekerja tercatat menetap di Hunian Pekerja Konstruksi (HPK) IKN.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pengelolaan Gedung, Kawasan, dan Perkotaan Otorita IKN, Cakra Nagara, membeberkan bahwa kompleks hunian tersebut telah dilengkapi berbagai sarana publik demi menunjang kehidupan sehari-hari para pekerja.
"HPK dilengkapi fasilitas pendukung seperti kantin, masjid, dan taman," ungkap Cakra Nagara saat memaparkan tata kelola kawasan HPK.
Dari total ribuan penghuni yang berasal dari sektor konstruksi, kebersihan, hingga tenaga keamanan tersebut, sebanyak 716 orang atau sekitar 16,6 persen di antaranya merupakan pekerja perempuan, sementara 3.586 orang sisanya adalah laki-laki.
Sentuhan Khusus untuk Pekerja Perempuan
Menjawab kebutuhan proteksi dan kenyamanan penghuni perempuan, Otorita IKN menerapkan kebijakan hunian yang sangat responsif gender. Dari total 35 menara yang berdiri di kawasan HPK, sebanyak empat tower di HPK-2 dialokasikan khusus sebagai area hunian pekerja perempuan. Langkah ini mempertegas komitmen pengelola dalam menjaga privasi serta ruang aman bagi para pekerja wanita di tengah padatnya aktivitas pembangunan proyek nasional tersebut. Tak hanya memisahkan gedung, sistem keamanan dan perawatan di area tersebut juga disesuaikan secara ketat.
Pengelola menempatkan personil keamanan perempuan untuk berjaga di area khusus ini. Begitu pula dengan petugas housekeeping yang disesuaikan gendernya demi menjaga kerapian dan privasi penghuni. Pengawasan kawasan makin diperketat melalui integrasi CCTV di area publik serta tata tertib yang mengikat.
"Tata tertib ditetapkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan penghuni. Kalau di tower perempuan, laki-laki tidak boleh masuk tanpa pengawalan petugas," tegas Nirwana, salah satu petugas keamanan perempuan yang bertugas di HPK-2.
Kebijakan perlindungan ini mendapat apresiasi positif dari para pekerja yang menghuni tempat tersebut. Sri, salah seorang pekerja perempuan yang sudah menetap di kawasan HPK selama satu tahun, mengaku sangat terbantu dengan penataan hunian berbasis gender ini.
"Sejak pertama kali datang ke IKN, saya langsung ditempatkan di area khusus perempuan. Penataan seperti ini membuat saya merasa jauh lebih aman dan nyaman selama tinggal di HPK," ujar Sri. Melalui pengelolaan gedung berbasis building management profesional yang mencakup pemeliharaan teknis, kebersihan, hingga keamanan ketat, HPK IKN bertransformasi menjadi lingkungan tempat tinggal yang ramah, tertib, dan kondusif bagi seluruh garda terdepan pembangunan ibu kota baru. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co