BALIKPAPAN – Maraknya kemunculan titik panas (hotspot) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur memaksa Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersiap dalam kondisi Siaga Satu. Sejumlah titik api terdeteksi mulai mengintai wilayah penyangga di luar Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), seperti Desa Bumi Harapan dan Bukit Raya. Kendati demikian, otoritas memastikan langit di kawasan IKN hingga saat ini masih bersih dan belum terpapar kabut asap.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawi Safitri, mengungkapkan bahwa pengawasan ekstra ketat terus dilakukan demi membentengi calon ibu kota negara tersebut dari bencana asap tahunan. Pemantauan pergerakan hotspot bahkan sudah dilakukan secara intensif sejak dua bulan terakhir mengingat ancaman cuaca kering El Nino yang sangat mudah memicu titik api.
"Per hari ini, seluruh wilayah IKN baik KIKN maupun Kawasan Pengembangan IKN tidak ada kabut asap, meskipun hotspot dan beberapa titik kebakaran sempat ditemukan," jelas Myrna. "Dalam situasi kemarau ini kita tidak boleh lengah sedikit pun."
Sebagai langkah antisipasi cepat, Otorita IKN meluncurkan inovasi panic button di area KIPP untuk mempercepat alur pelaporan warga jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran. Tak hanya itu, benteng pertahanan di lapangan juga diperkuat dengan pembentukan Satuan Reaksi Cepat multipihak yang akan disebar ke dalam tujuh klaster rawan karhutla. Tim khusus ini menggabungkan kekuatan dari unsur TNI/Polri, perusahaan, relawan, hingga perangkat desa.
Untuk meredam potensi kebakaran dari udara, OIKN juga menggandeng BMKG dan TNI Angkatan Udara untuk menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau penyemaian hujan buatan yang dijadwalkan berlangsung pada 22–27 Agustus 2026. Menurut Myrna, hujan yang berhasil diturunkan di beberapa titik lokasi tidak hanya menjaga ketersediaan pasokan air, tetapi juga ampuh melembabkan lahan gambut yang rawan terbakar.
Edukasi kepada masyarakat lokal pun tak luput dari perhatian. Otorita IKN intensif melatih para petani di area deliniasi IKN untuk mengolah lahan tanpa mem bakar, sekaligus menyiagakan fasilitas kesehatan bersama rumah sakit setempat jika terjadi penurunan kualitas udara. Melalui respons cepat dan kesiapsiagaan terpadu ini, wilayah IKN diharapkan tetap menjadi kawasan yang aman dan nyaman dari ancaman karhutla. (*)
Sumber : prokal.co