Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mammoth, Jejak Raksasa Zaman Es: Hikayat Punahnya Sang Insinyur Alam dan Harapan Baru dari Masa Lalu

Redaksi Prokal • Kamis, 16 April 2026 - 09:00 WIB
Mammoth
Mammoth

PROKAL.CO- Mamut atau mammoth bukan sekadar gajah purba biasa, melainkan genus raksasa yang telah menjelajahi bumi selama jutaan tahun sejak pertama kali muncul di Afrika sekitar 6,2 juta tahun silam. Penyebarannya yang luar biasa mencakup wilayah Eropa, Asia, hingga Amerika Utara, melahirkan berbagai spesies unik seperti mamut stepa yang menjulang setinggi 4 meter dengan bobot 12 ton. Di sisi lain, dunia mengenal mamut berbulu yang berevolusi di Siberia sekitar 600.000 tahun lalu dengan adaptasi luar biasa berupa bulu tebal, lapisan lemak, serta telinga kecil untuk bertahan hidup di tengah kejamnya iklim Arktik. Menariknya, manusia purba hidup berdampingan dengan para raksasa ini, memburu mereka untuk bertahan hidup, membangun tempat tinggal dari tulang-tulang mereka, hingga mengabadikan kemegahan mamut dalam lukisan-lukisan gua yang ikonik.

Kepunahan mamut dipicu oleh kombinasi mematikan antara perubahan iklim dan tekanan dari aktivitas manusia. Saat Zaman Es berakhir, suhu yang menghangat mulai menyusutkan padang rumput luas yang menjadi sumber makanan utama mereka, menggantinya dengan hutan dan lahan basah yang tidak cocok bagi habitat mamut. Di saat yang sama, para pemburu manusia yang semakin terampil memberikan tekanan tambahan pada populasi yang sudah tertekan. Sekitar 10.000 tahun yang lalu, mamut berbulu di daratan utama lenyap bersamaan dengan mamut Kolumbia di Amerika Utara dalam sebuah peristiwa kepunahan massal yang menyapu sebagian besar mamalia besar di benua tersebut, meski populasi kecil mamut berbulu sempat bertahan di Pulau Wrangel hingga 4.000 tahun yang lalu, sezaman dengan pembangunan piramida di Mesir Kuno.

Hilangnya kawanan besar ini membawa efek domino yang mengubah ekosistem dunia secara fundamental. Mamut berperan sebagai insinyur ekosistem yang menjaga kesuburan tanah, merobohkan pohon untuk menjaga keterbukaan lahan, dan menginjak salju agar rumput dapat diakses oleh hewan lain. Ketika mereka punah, padang rumput stepa yang produktif runtuh dan digantikan oleh semak belukar serta hutan luas, yang bahkan diyakini para ilmuwan memengaruhi siklus nutrisi tanah dan umpan balik iklim global. Kini, mamut tetap menjadi subjek penelitian ilmiah yang intens, di mana kemajuan dalam studi DNA kuno memicu diskusi mengenai upaya de-ekstinksi. Gagasan untuk menghidupkan kembali raksasa ini bukan sekadar tentang nostalgia, melainkan pertanyaan besar mengenai kemungkinan memulihkan fungsi ekologis di lanskap Arktik demi memperbaiki kerusakan lingkungan jangka panjang. (*)

Editor : Indra Zakaria
#mammoth