PROKAL.CO- Pernahkah Anda membayangkan sebuah era di mana manusia sudah membangun peradaban, namun tak satu pun lembar catatan sejarahnya yang tersisa? Dalam linimasa sejarah bumi, terdapat satu celah misterius yang membentang antara masa Nabi Adam hingga terjadinya banjir besar pada zaman Nabi Nuh. Era yang kerap dijuluki sebagai "abad kekosongan" ini dikenal dalam literatur ilmiah dan kebudayaan Barat sebagai zaman Antediluvian—sebuah istilah yang diserap dari bahasa Latin, ante (sebelum) dan diluvium (banjir). Uniknya, yang kosong dari era purba ini bukanlah jejak kehidupan manusianya, melainkan dokumen tertulis yang bisa dibaca oleh para sejarawan hari ini.
Ketiadaan bukti tertulis tersebut justru menyulut rasa penasaran yang membakar peradaban manusia selama ribuan tahun. Diskursus mengenai berapa lama era ini berlangsung telah memicu perdebatan sengit lintas generasi, melahirkan teori-teori ganjil, hingga tanpa disengaja memicu lahirnya cabang ilmu pengetahuan baru. Istilah antediluvian itu sendiri sebenarnya baru dipopulerkan pada tahun 1646 oleh seorang ilmuwan asal Inggris, Sir Thomas Browne, melalui karyanya Pseudodoxia Epidemica yang saat itu ditulis justru untuk membongkar berbagai bentuk takhayul.
Mengapa era ini seolah menjadi teka-teki raksasa yang tak pernah terpecahkan? Kunci utamanya terletak pada ketiadaan penanggalan pasti di dalam teks-teks suci. Dalam tradisi Islam, sebuah riwayat masyhur dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa rentang waktu antara Nabi Adam dan Nabi Nuh adalah sepuluh qurun, di mana saat itu seluruh umat manusia masih berada di atas jalan kebenaran. Namun, pemaknaan kata qurun itu sendiri memicu selisih tafsir yang lebar; jika diartikan sebagai "abad", maka jaraknya adalah 1.000 tahun, tetapi jika dimaknai sebagai "generasi", rentang waktunya bisa berkisar antara 300 hingga 400 tahun saja.
Menariknya, kecenderungan angka sepuluh ini juga berhembus dalam Kitab Kejadian pada Alkitab yang mencatat silsilah sepuluh generasi dari Adam menuju Nuh. Meski memiliki pola silsilah yang identik, Alkitab kuno dalam tiga versi berbeda menyimpan perhitungan selisih tahun yang cukup jauh. Teks Masoret mencatat angka 1.656 tahun, Septuaginta menyebut angka 2.242 tahun, sementara Taurat Samaria mencatat 1.307 tahun. Dari celah perdebatan angka inilah, Uskup Agung James Ussher pada tahun 1650 mencoba menarik kesimpulan teologis-matematis bahwa Bumi diciptakan pada tahun 4004 SM dan Air Bah terjadi pada 2348 SM—sebuah kalkulasi pribadi yang sayangnya sering kali disalahartikan masyarakat awam sebagai bagian dari firman Tuhan hanya karena terus dicetak pada catatan kaki Alkitab King James sejak era 1701.
Hitungan matematis sang uskup pada akhirnya terpatahkan oleh penemuan arkeologi modern, salah satunya melalui keindahan Piramida Agung Giza yang sudah berdiri kokoh sejak kisaran 2560 SM. Secara logika, piramida tersebut sudah ada sebelum tahun Air Bah versi Ussher dan seharusnya hancur diterjang banjir raksasa, namun nyatanya tetap berdiri tegak hingga hari ini tanpa jeda dalam catatan dinasti Mesir Kuno. Penting untuk digarisbawahi bahwa kekeliruan ini bukanlah bentuk pembatalan terhadap substansi kisah kitab suci, melainkan kritik ilmiah terhadap formula perhitungan matematis seorang teolog abad ke-17.
Pencarian bukti ilmiah atas era sebelum banjir ini sempat melahirkan gagasan-gagasan yang cukup menggelitik dalam sejarah sains Eropa. Pada tahun 1681, akademisi Thomas Burnet mencetuskan teori bahwa Bumi pada mulanya berbentuk bulat mulus layaknya cangkang telur. Menurutnya, bencana Air Bah telah memecahkan cangkang tersebut hingga membentuk reruntuhan kasar yang kini kita kenal sebagai pegunungan. Alhasil, selama hampir satu abad, masyarakat terpelajar Eropa sempat memandang gunung sebagai bentuk kecacatan Bumi yang buruk rupa.
Kepanikan ilmiah untuk membuktikan keberadaan era Antediluvian mencapai puncaknya pada tahun 1726, ketika seorang dokter bernama Johann Jakob Scheuchzer menemukan fosil yang ia namai Homo diluvii testis atau "manusia saksi Air Bah". Scheuchzer sangat yakin telah menemukan kerangka manusia pendosa yang tenggelam saat banjir Nuh. Namun, 85 tahun kemudian, penelitian yang lebih mendalam membuktikan bahwa fosil tersebut sejatinya hanyalah kerangka salamander raksasa purba. Scheuchzer tidak berniat membohongi publik; ia hanya menjadi korban dari prasangka ilmiahnya sendiri, meyakini apa yang sejak awal ingin ia percayai.
Namun di balik serangkaian kelirumut yang menggelikan tersebut, ada ironi manis yang tercipta: ilmu geologi modern justru lahir dari upaya gigih para peneliti yang berusaha mencari jejak ilmiah banjir Nuh. Ketika ilmuwan Nicolas Steno pada tahun 1669 meneliti susunan lapisan batuan untuk mencari endapan air bah, ia justru merumuskan hukum dasar stratigrafi—bahwa batuan di lapisan bawah selalu berusia lebih tua dari lapisan di atasnya. Aturan emas Steno ini hingga kini menjadi fondasi utama geologi dan justru membuktikan bahwa umur Bumi jauh lebih tua serta lebih kompleks dari yang pernah dibayangkan manusia abad pertengahan.
Meski sepi dari dokumen tertulis, narasi moral tentang kehidupan zaman sebelum banjir sejatinya sangatlah padat. Teks Alkitab mengisahkan bagaimana kota pertama, instrumen musik pertama, hingga teknologi pandai besi justru dipelopori oleh garis keturunan Kain (Qabil)—menyelipkan pesan moral yang tajam bahwa lompatan inovasi peradaban sering kali lahir dari lingkaran yang memiliki krisis moralitas. Di sisi lain, Al-Qur'an dalam Surah Nuh mencatat lima nama berhala yang disembah pada masa itu: Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr. Keberadaan nama-nama ini terkonfirmasi secara menakjubkan melalui penemuan prasasti Arab Selatan pra-Islam oleh para arkeolog. Penjelasan Ibnu Abbas mengenai fenomena ini—bahwa berhala tersebut awalnya adalah patung penghormatan untuk orang-orang saleh yang lambat laun disembah oleh generasi penerusnya—sangat selaras dengan teori pemikir Yunani Kuno, Euhemerus, mengenai asal-usul dewa-dewi peradaban.
Pada akhirnya, kita harus menyadari batasan dari metodologi sejarah itu sendiri. Tulisan tertua yang berhasil didekodifikasi manusia baru muncul sekitar tahun 3200 SM di kawasan Mesopotamia, padahal kota purba seperti Jericho sudah memancangkan tembok batu megahnya sejak 8000 SM. Manusia tentu sudah ada dan beraktivitas jauh sebelum tulisan ditemukan, namun tanpa adanya jejak literasi, sains sejarah tidak bisa memproduksi narasi. Sebelum tulisan lahir, sejarah bukannya menyatakan manusia "tidak ada", melainkan sejarah sekadar "tidak bisa berbicara".
Menatap misteri era Antediluvian, kita kerap menyaksikan dua kutub ekstrem: kelompok yang memaksakan hitungan kuno sebagai dogma mutlak, dan kelompok lain yang terburu-buru menggunakan fosil salamander untuk menepis narasi keagamaan. Keduanya terjebak dalam kesalahan yang sama, yaitu mengisi kekosongan informasi dengan rasa percaya diri tanpa pijakan bukti yang cukup. Dalam menyikapi lorong-lorong gelap masa lalu, terkadang sikap ilmiah yang paling jujur, elegan, dan aman adalah berani mengakui bahwa "kita tidak tahu"—karena mengakui ketidaktahuan jauh lebih bijaksana daripada berpura-pura tahu segalanya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co