Racun Tersembunyi di Balik Rimbun Hutan: Jangan Sentuh Daun Rengas Jika Tak Ingin Kulit Melepuh!

Indra Zakaria • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:38 WIB
Pohon rengas
Pohon rengas

 
Bagi para pencinta alam, petani, hingga pekerja yang sering beraktivitas di dalam hutan maupun kawasan perkebunan, melangkah di antara rimbunnya pepohonan memang menyegarkan. Namun, kewaspadaan terhadap vegetasi sekitar tetap menjadi hal yang sangat krusial. Di balik rindangnya alam liar, tersimpan tanaman berbahaya yang bisa menjadi mimpi buruk bagi kulit Anda: pohon rengas.

Secara industri, pohon bernama ilmiah dari genus Gluta (anggota suku Anacardiaceae) ini sebenarnya cukup populer karena kualitas kayunya yang ciamik sebagai bahan baku furnitur. Namun di balik eksotisme corak kayunya, bagian daun, tangkai, hingga kulit pohon ini menyimpan racun berbahaya. Tanaman ini mengandung senyawa toksik sejenis urushiol—zat kimia pembawa reaksi alergi ekstrem yang siap memicu luka bakar begitu tersentuh.

Mungil tapi Mematikan: Begini Cara Mengenali Daun Rengas

Agar tidak salah kaprah saat berpetualang di belantara, mengenali ciri-ciri fisiknya adalah benteng pertahanan pertama. Daun rengas tumbuh secara tunggal dengan tekstur yang agak tebal dan terasa kaku saat dipegang. Wajah daunnya tampak licin mengkilap dengan bentuk melengkung lonjong hingga memanjang.

Pohon rengas di daerah pasang surut.
Pohon rengas di daerah pasang surut.
Saat masih berusia muda, daun rengas tampil memikat dengan rona kemerahan atau kecokelatan sebelum akhirnya bertransisi menjadi hijau tua pekat ketika dewasa. Daun-daun tunggal, jorong lonjong hingga lanset terbalik, 12–32 cm × 5–8 cm, dengan ujung tumpul hingga meruncing, gundul, 16–32 pasang tulang daun sekunder, tangkai daun amat pendek hingga sepanjang 1 cm. Daun-daun yang tua berbintik-bintik hitam

Namun, ancaman sebenarnya tersembunyi di balik tangkai dan urat-urat daunnya. Di sana mengalir cairan atau getah bening yang sangat sensitif. Begitu tangkai daun tergores atau dipatahkan, getah ini akan keluar dan perlahan berubah warna menjadi kehitaman saat bereaksi dengan udara bebas. Getah hitam inilah yang menjadi dalang utama iritasi kulit.

Sekali Tetes, Efeknya Bikin Meringis

Dampak kontak fisik dengan getah daun rengas tidak bisa diremehkan. Hanya dengan satu tetes getah murni yang menempel di kulit, seseorang bisa menderita dermatitis kontak hebat yang menyiksa. Gejalanya biasanya muncul secara bertahap dan agresif:

Rasa gatal luar biasa yang disusul sensasi panas membakar.

Kulit memerah tajam, membengkak, dan meradang secara cepat.

Muncul lepuhan besar berisi cairan (blister) yang tampak persis seperti luka bakar akibat minyak panas.

Tak hanya sentuhan fisik, bahaya daun rengas juga bisa menyebar lewat udara. Membakar ranting atau daun rengas yang kering sangat dilarang keras, sebab asap hasil pembakarannya membawa partikel racun yang dapat memicu iritasi mata hebat hingga peradangan serius pada saluran pernapasan jika terhirup.

Pertolongan Pertama Saat Terpapar Getah Rengas

Jika tak sengaja menyenggol atau terkena cipratan getah daun rengas saat di hutan, jangan panik. Tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan untuk menekan efek racunnya sebelum meresap lebih dalam:

Bilas dengan Pelarut Minyak atau Alkohol

Segera basuh area kulit yang terpapar menggunakan alkohol gosok atau sabun pencuci piring (pembersih lemak) di bawah air mengalir. Karena getah rengas berbasis minyak, sabun biasa kadang tak cukup kuat melarutkannya. Ingat: Jangan mengusap area yang terkena dengan tangan telanjang agar racun tidak berpindah ke bagian tubuh lain!

Tahan Keinginan untuk Menggaruk

Rasa gatalnya memang menguji kesabaran, tetapi menggaruk luka lepuh hanya akan memecahkan bentol dan memicu infeksi bakteri sekunder yang memperparah kondisi kulit.

Pertolongan Medis dan Obat-obatan

Oleskan salep pereda gatal (kalamin atau hidrokortison) dan konsumsi antihistamin untuk meredakan reaksi alergi. Jika bengkak meluas, lepuhan semakin parah, atau mengenai area sensitif seperti wajah dan mata, segera temui dokter. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
rengas