Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Universitas Islam Madinah, Kampus Jujukan Pelajar Indonesia di Arab Saudi, Total Beasiswa hingga Rp 1 Miliar, Mudik Ditanggung saat Musim Haji

Indra Zakaria • 2024-06-05 14:02:05
Universitas Islam Madinah.
Universitas Islam Madinah.

Sejak didirikan pada 1961 oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi, perguruan tinggi ini memang diprioritaskan bagi pelajar dari mancanegara yang ingin mendalami Islam. Dan, Indonesia menjadi penyumbang terbesarnya.

ARIS IMAM MASYHUDI, Madinah

 

Prokal.co, ”AHLAN wa sahlan. Selamat datang di kampus kami. Mohon maaf mungkin kita tidak bisa mengambil foto di kelas untuk saat ini karena para mahasiswa masih melaksanakan ujian.”

Kalimat itu dituturkan dengan ramah oleh Zulmar Adiguna, mahasiswa fakultas syariah universitas yang terletak di Distrik Al Jamiah, Madinah, Arab Saudi, tersebut.

Zulmar bersama Ketua Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Madinah Ahmad Bukhori menemani Jawa Pos bersama tim Media Center Haji (MCH) untuk mengenal lebih dekat perguruan tinggi tersebut.

Kampus yang familier disebut Universitas Islam Madinah (UIM) oleh mahasiswa Indonesia dan berjarak sekitar 4,7 kilometer dari Masjid Nabawi itu begitu luas. Mencapai 50 hektare.

Total ada 170 negara yang mengirimkan pelajar untuk menimba ilmu di sana. Dan, Indonesia menjadi negara ’’pengekspor” terbanyak.

Dari sekitar 17.800 mahasiswa yang saat ini belajar di sana, sekitar 1.600 orang berasal dari tanah air. ”Namun, saat ini sebagian mahasiswa sudah masuk masa libur panjang sehingga banyak yang tidak berada di kampus,” kata Bukhori.

Ya, di UIM, bulan haji menjadi masa libur panjang, mencapai dua bulan. Baru masuk lagi pada akhir Muharam.

Sebagian besar mahasiswa pulang ke Tanah Air. Namun, ada pula yang masih tinggal di Madinah. ”Rata-rata yang tidak pulang adalah mereka yang menjadi petugas haji Indonesia pada musim haji kali ini. Sebelumnya, mereka mengikuti seleksi dan lulus,” jelas Bukhori.

Dominasi mahasiswa dari luar yang kuliah di UIM cukup beralasan. Sejak didirikan pada 1961 sesuai keputusan resmi Raja Saud bin Abdul Aziz, kampus itu menjadi sarana penyebaran Islam ke seluruh dunia.

Tak heran jika UIM didominasi fakultas tentang keislaman. Mulai syariah, Al-Qur’an, hadis, dan studi Islam, dakwah dan ushuluddin, hingga bahasa Arab. Meski demikian, di kampus itu juga terdapat fakultas umum seperti hukum, komputer dan sistem informasi, teknik, serta sains.

Setiap tahun ajaran, yang diterima paling banyak 180 mahasiswa per fakultas. Peminatnya cukup banyak. Sebab, UIM menerapkan konsep gratis 100 persen.

Bukhori menceritakan, skema yang diberikan adalah beasiswa penuh. Selain dibebaskan dari semua biaya pendidikan, para mahasiswa diberi beragam fasilitas lain secara gratis. Mulai asrama pemondokan, makan, hingga buku. ’’Tiap kamar berisi empat mahasiswa,” katanya.

Semua mahasiswa juga mendapat uang saku bulanan sebesar 850 riyal atau setara Rp 3,5 juta. Termasuk tiket pulang kampung ke negara asal pulang pergi (PP).

Uang saku mudik itu hanya diberikan saat masa libur panjang seperti saat ini. Jika ingin pulang di luar waktu itu, biaya tidak ditanggung kampus.

Jika mahasiswa ingin mencari makanan di luar jatah rutin kampus, mereka juga bisa membeli berbagai makanan yang tersedia di area kampus. ”Jika beli makanan di luar, nanti ada diskon,” katanya.

Jika diakumulasi, nominal beasiswa yang dikeluarkan pemerintah Arab Saudi untuk tiap mahasiswa di UIM tidak sedikit. ”Dari hitungan kami, lebih dari Rp 1 miliar sejak awal masuk hingga lulus di tiap jenjang,” jelasnya.

Dari semua fakultas yang ada di UIM, mayoritas mahasiswa asal Indonesia meminati fakultas tentang keislaman. Misalnya, syariah, Al-Qur’an, hadis, dan akidah.

Meski seleksinya cukup ketat, sejatinya persyaratan yang harus dipenuhi para calon mahasiswa yang berminat masuk UIM tidak spesifik. Misalnya, harus lulusan pesantren atau mahir berbahasa Arab. ”Siapa pun boleh untuk ikut tes,” ujar Zulmar.

Dia mencontohkan dirinya sendiri. Sebelum masuk UIM, dia tercatat sebagai mahasiswa semester V di UIN Walisongo, Semarang. Setelah mendengar informasi rekrutmen calon mahasiswa UIM, dia tertarik untuk ikut.

Setelah diberi tahu bahwa bahasa Arab bukan syarat mutlak, dia akhirnya memberanikan diri untuk ikut seleksi. Saat kali pertama kuliah, Zulmar dan mahasiswa lain yang belum fasih bahasa Arab mengikuti program bahasa. ”Alhamdulillah, saat ini bahasa Arab kami sudah lancar,” katanya.

Secara umum, metode dan aturan perkuliahan di UIM tak jauh berbeda dengan perguruan tinggi pada umumnya. Terdiri atas delapan semester. Pakaiannya juga bebas. Tak harus mengenakan busana muslim. Hanya mahasiswa lokal yang wajib mengenakan pakaian khas muslim Arab.

Soal kegiatan, jadwal harian seluruh mahasiswa di UIM tergolong cukup padat. Sejak jelang subuh hingga malam, mereka harus mengikuti berbagai aktivitas yang disusun kampus.

Meski demikian, setiap mahasiswa juga mendapat jatah libur di tiap Jumat dan Sabtu. Biasanya mereka mengisi waktu senggang dengan berbagai aktivitas.

Paling banyak adalah pergi ke Masjid Nabawi. Selain untuk beribadah, mereka datang ke perpustakaan atau mengikuti pengajian-pengajian yang berlangsung di sana.

Selain itu, bagi yang sudah berkeluarga, mereka berkesempatan bisa mengunjungi keluarga. Bagi mahasiswa S-1, biasanya keluarganya ditempatkan di apartemen di luar kampus. Sedangkan mahasiswa pascasarjana beda lagi. Mereka boleh membawa keluarga ke lingkungan kampus dan disediakan asrama khusus.

Selain itu, setiap mahasiswa di UIM punya fasilitas tambahan. Yakni, bisa berhaji. Namun, ada aturannya. Mereka hanya boleh berhaji lima tahun sekali. ”Jika ingin berhaji lagi sebelum lima tahun, tidak akan bisa. Sebab, data kita sudah tercatat dalam database,” ujarnya. (*/c7/ttg/jpg/dwi)

Editor : Indra Zakaria