Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Trump Marah ke Israel, Suruh Pesawat yang Mau Nyerang Iran Kembali

Redaksi • 2025-06-25 10:21:23
Presiden Amerika Donald Trump. (Brandon Bell/Reuters)
Presiden Amerika Donald Trump. (Brandon Bell/Reuters)

Konflik antara Iran dan Israel kembali memanas meski sebelumnya telah diumumkan gencatan senjata. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada Selasa (24/6) pagi waktu setempat, menolak mengecam Iran atas pelanggaran kesepakatan itu.

Meski Teheran kembali meluncurkan rudal ke wilayah Israel sekitar pukul 10.30 pagi waktu setempat, tiga setengah jam setelah gencatan senjata seharusnya mulai berlaku. "Saya tidak senang jika Israel langsung menyerang pagi ini hanya karena satu roket yang tidak mengenai sasaran, mungkin bahkan ditembakkan karena kesalahan," kata Trump sebelum menaiki Air Force One menuju KTT NATO di Belanda.

Setelah pernyataan itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara langsung dengan Trump. Tak lama kemudian, militer Israel (IDF) meluncurkan serangan terbatas ke Iran, menargetkan sebuah instalasi radar. Beberapa laporan juga menyebut terjadi dua ledakan di dekat Teheran. Menanggapi hal tersebut, Trump menegaskan, “Iran tidak akan pernah bisa membangun kembali fasilitas nuklir mereka!”

Lewat platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump secara langsung memperingatkan Israel. "Israel. Jangan jatuhkan bom itu. Jika kalian melakukannya, itu pelanggaran besar. Pulangkan para pilot sekarang juga," tegas Trump. Ia menambahkan dalam unggahan lain, Israel tidak akan menyerang Iran. "Semua pesawat akan berbalik arah dan pulang, sambil melakukan 'gelombang persahabatan' kepada Iran. Tidak ada yang akan terluka, gencatan senjata sedang berlaku. Terima kasih atas perhatiannya!" kata Trump.

Pernyataan Trump ini mengejutkan sejumlah pejabat Israel. Mereka sebelumnya menyatakan telah berkoordinasi dengan Washington dan menerima "lampu hijau" untuk merespons pelanggaran gencatan senjata oleh Iran. Namun Trump tampaknya tidak mengetahui atau tidak mengakui koordinasi tersebut, dan justru menunjukkan kemarahannya.

Mengutip YNetNews, sumber di Israel menyebut bahwa serangan udara yang dilakukan hanya ditujukan ke satu sasaran, jauh lebih kecil dari skenario respons awal, guna menunjukkan bahwa Israel "tidak menyerah." Insiden ini kembali memperlihatkan celah antara pernyataan publik Israel dan Amerika Serikat soal Iran, yang sebelumnya juga terlihat dalam operasi-operasi rahasia mereka terhadap Teheran. Termasuk serangan awal Israel dan operasi AS bertajuk Operation Midnight Hammer.

Perbedaan pandangan ini diyakini bersumber dari ketidakjelasan soal waktu efektif dimulainya gencatan senjata. Israel menganggap gencatan berlaku sekitar pukul 04.00 pagi, namun banyak detail yang ternyata belum disepakati secara resmi.

Israel menganggap serangan mematikan ke Be'er Sheva sebagai pelanggaran, sementara Trump hanya menanggapi peluncuran rudal yang terjadi setelah pukul 07.00 pagi. Pernyataan Trump yang secara terbuka meminta Israel menghentikan serangan, bahkan menyalahkannya, menunjukkan risiko diplomatik dari keputusan AS untuk ikut menyerang fasilitas nuklir Iran. Salah satu target utama adalah fasilitas Fordow yang terkenal sangat terlindungi.

Pejabat Israel sendiri mengaku tidak terkejut dengan pelanggaran Iran. Sebelum pernyataan Trump muncul, pemerintah Israel telah menginstruksikan IDF untuk bersiap melancarkan respons yang "signifikan" setelah serangkaian serangan besar-besaran ke wilayah Iran yang dilaporkan menewaskan ratusan anggota milisi Basij.

Seorang pejabat keamanan mengkritik keputusan mencapai gencatan senjata sebelum semua detail rampung sebagai tindakan "naif dan salah memahami musuh yang ingin menghancurkan kita."

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Senin malam waktu setempat mengumumkan bahwa Israel dan Iran telah mencapai kesepakatan resmi untuk menerapkan gencatan senjata secara penuh dan menyeluruh, menandai apa yang disebutnya sebagai akhir dari "Perang 12 Hari".

Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social-nya pada Senin, Trump mengucapkan selamat kepada kedua negara dan mengungkapkan bahwa gencatan senjata akan dimulai dalam waktu kurang lebih enam jam, menyusul selesainya operasi militer yang sedang berlangsung dari masing-masing pihak.

Gencatan senjata pada awalnya akan berlangsung selama 12 jam, di mana pihak yang berlawanan akan mempertahankan sikap "damai dan saling menghormati". Menurut Trump, Iran akan menjadi pihak pertama yang memulai gencatan senjata, kemudian Israel akan menyusul 12 jam setelahnya, dan akhirnya pada waktu 24 jam akan diumumkan secara resmi bahwa perang telah berakhir.

"Dengan asumsi bahwa semua berjalan sebagaimana mestinya, dan pasti akan terjadi," tulis Trump, "Saya ingin mengucapkan selamat kepada kedua negara... karena memiliki stamina, keberanian, dan kecerdasan untuk mengakhiri apa yang seharusnya disebut sebagai 'PERANG 12 HARI'.

"Menyebut perjanjian tersebut sebagai terobosan yang "dapat menyelamatkan Timur Tengah dari kehancuran selama bertahun-tahun," Trump mengakhiri pengumumannya dengan pesan persatuan, "Tuhan memberkati Israel, Tuhan memberkati Iran, Tuhan memberkati Timur Tengah, Tuhan memberkati Amerika Serikat, dan Tuhan memberkati dunia!"(*)

Editor : Indra Zakaria
#Perang Iran dan Israel