WASHINGTON – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi pengerahan kekuatan militer besar-besaran menuju Iran. Pernyataan ini disampaikan Trump di atas pesawat kepresidenan Air Force One saat bertolak dari Davos, Swiss, menuju Washington DC, Kamis (22/1/2026).
“Kami memiliki banyak kapal dan armada besar yang sedang menuju ke arah sana (Iran) untuk berjaga-jaga. Kami akan melihat apa yang terjadi, namun saat ini kami mengawasi Iran dengan sangat cermat,” ujar Trump kepada wartawan.
Meski mengerahkan kekuatan tempur, Trump menyatakan harapannya agar konfrontasi fisik tidak perlu terjadi. Namun, ia memberikan peringatan keras kepada Teheran untuk tidak menghidupkan kembali program nuklirnya. Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan menoleransi upaya apa pun dari Iran untuk mengembangkan senjata nuklir.
Klaim Serangan B-2 dan Penghentian Eksekusi
Dalam wawancara terpisah dengan CNBC di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF), Trump mengeklaim bahwa militer AS sebelumnya telah melakukan serangan udara yang sangat keras menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Menurutnya, serangan tersebut berhasil melumpuhkan ambisi nuklir Teheran.
"Seandainya kami tidak menghantam mereka dengan B-2, mungkin mereka sudah memiliki senjata nuklir sebulan setelah serangan itu. Satu hal yang saya tekankan, mereka tidak boleh memiliki nuklir," tegas Trump.
Selain isu nuklir, Trump juga mengeklaim bahwa tekanan militer AS berhasil membatalkan eksekusi massal terhadap ratusan pengunjuk rasa di Iran. Menurut Trump, Teheran membatalkan rencana hukuman gantung terhadap 837 orang pada hari Kamis setelah dirinya mengeluarkan peringatan keras. Gelombang protes di Iran sendiri meletus sejak akhir Desember akibat krisis ekonomi, inflasi yang melonjak, dan anjloknya nilai mata uang.
Rencana Pengeboran Minyak di Venezuela Di tengah isu Iran, Trump juga menyinggung kebijakan luar negerinya terhadap Venezuela. Ia menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak raksasa asal Amerika Serikat akan segera memulai aktivitas pengeboran di negara Amerika Selatan tersebut dalam waktu dekat.
"Perusahaan-perusahaan terbesar di dunia milik kita akan masuk ke sana. Saat ini mereka semua sedang berada dalam tahap negosiasi," ungkapnya.
Pernyataan Trump ini menandai eskalasi kebijakan luar negeri AS yang semakin agresif di dua wilayah strategis dunia, baik dalam hal pengamanan stabilitas energi di Venezuela maupun pengawasan ketat terhadap aktivitas militer dan nuklir di Iran. (*)
Editor : Indra Zakaria