Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Timur Tengah di Ambang Perang: Kapal Induk USS Abraham Lincoln Siaga Tempur, UEA Tegaskan Tolak Jadi Pangkalan Serang Iran

Redaksi Prokal • 2026-01-27 09:52:37
Jet-jet tempur F/A-18F disiagakan di atas kapal induk milik Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, di Teluk Oman dekat Selat Hormuz pada 15/7/2019. ANTARA/REUTERS/Ahmed Jadallah/aa
Jet-jet tempur F/A-18F disiagakan di atas kapal induk milik Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, di Teluk Oman dekat Selat Hormuz pada 15/7/2019. ANTARA/REUTERS/Ahmed Jadallah/aa

DUBAI– Eskalasi militer di wilayah Teluk mencapai titik didih seiring dengan laporan bahwa gugus tempur kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, akan siap melakukan operasi militer terhadap Iran dalam waktu satu hingga dua hari ke depan. Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa militer AS tidak hanya mengandalkan kekuatan laut, tetapi juga telah mengirimkan belasan pesawat tempur tambahan untuk memperkuat daya gempur kelompok penyerang mereka di wilayah tanggung jawab CENTCOM, Samudra Hindia.

Langkah ofensif ini diperkuat oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengonfirmasi pergerakan armada besar Amerika menuju Timur Tengah dengan dalih "berjaga-jaga". Meski belum memberikan jawaban pasti mengenai intervensi militer total, Gedung Putih menegaskan bahwa semua opsi tetap terbuka untuk menekan Teheran, terutama setelah gelombang protes anti-pemerintah melanda berbagai kota di Iran akibat krisis ekonomi. Tekanan ini disebut-sebut sebagai upaya Washington dan Israel untuk mendorong perubahan sistem pemerintahan di Iran.

Namun, di tengah genderang perang yang ditabuh AS, Uni Emirat Arab (UEA) mengambil sikap diplomatik yang tegas. Pada Senin, 26 Januari 2026, Kementerian Luar Negeri UEA secara resmi menyatakan komitmennya untuk tidak mengizinkan wilayah udara, teritorial, maupun perairannya digunakan dalam aksi militer yang bermusuhan terhadap Iran. UEA juga menutup pintu bagi pemberian dukungan logistik apa pun untuk serangan terhadap Teheran, dengan menekankan bahwa dialog dan penghormatan terhadap kedaulatan negara adalah fondasi utama untuk meredakan krisis.

Ketegangan ini bukanlah tanpa latar belakang yang kelam. Pada Juni 2025 lalu, wilayah tersebut sempat diguncang perang selama 12 hari antara Israel dan Iran yang melibatkan serangan balik drone serta rudal besar-besaran, sebelum akhirnya Washington mengumumkan gencatan senjata. Kenangan akan konflik tersebut membuat situasi saat ini kian genting, mengingat para pejabat Iran telah mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap agresi baru dari pihak Amerika Serikat akan memicu respons yang jauh lebih cepat dan komprehensif.

Kini, dunia tengah menantikan apakah jalur diplomasi yang disuarakan negara-negara Teluk mampu meredam pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln, ataukah Timur Tengah akan kembali terjerumus ke dalam palung konflik bersenjata yang lebih besar. (*)

Editor : Indra Zakaria