Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lawan Ancaman AS, Presiden Iran dan MBS Kompak Serukan Solidaritas Islam

Redaksi Prokal • 2026-01-28 11:45:00
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian

TEHERAN – Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah memicu langkah diplomasi tingkat tinggi antara dua kekuatan besar di wilayah tersebut. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dilaporkan telah melakukan komunikasi melalui sambungan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, guna merespons meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat yang ditandai dengan pengiriman kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan tersebut.

Dalam pembicaraan tersebut, Presiden Pezeshkian menyampaikan pesan tegas bahwa ancaman serta pengerahan kekuatan militer oleh Amerika Serikat hanya akan memperburuk instabilitas dan tidak akan memberikan manfaat bagi pihak mana pun. Pihak kepresidenan Iran menegaskan bahwa tekanan ekonomi maupun campur tangan eksternal yang selama ini dilakukan tidak akan mampu melemahkan ketahanan rakyat Iran. Teheran memandang bahwa kehadiran armada tempur asing di perairan mereka justru menjadi katalisator bagi ketidakpastian keamanan di masa depan.

Respons positif datang dari pihak Riyadh, di mana Mohammed bin Salman menyambut baik dialog terbuka tersebut. Putra Mahkota Arab Saudi menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap stabilitas, keamanan, dan pembangunan di kawasan. Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya solidaritas di antara negara-negara Islam serta menyatakan penolakan keras Arab Saudi terhadap segala bentuk agresi atau langkah eskalasi yang ditujukan kepada Iran.

Situasi di Timur Tengah memang tengah berada pada titik kritis seiring dengan meningkatnya kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat atau Israel. Kebijakan Presiden AS, Donald Trump, yang kembali menekan Teheran terkait isu domestik dan program nuklir, telah memicu reaksi keras dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Pejabat senior IRGC bahkan telah mengeluarkan peringatan bagi negara-negara tetangga agar tidak memberikan akses wilayah mereka bagi pihak asing untuk melakukan serangan terhadap Iran.

Teheran tetap pada posisinya untuk memberikan respons tegas terhadap setiap tindakan yang dianggap mengancam kedaulatan negara. Kondisi ini secara langsung berdampak pada kebuntuan perundingan nuklir, di mana Iran menilai bahwa dialog tidak akan pernah mencapai kompromi selama tekanan militer dan ekonomi terus diberlakukan. Diplomasi antara Iran dan Arab Saudi ini diharapkan mampu menjadi penyeimbang di tengah ancaman eskalasi yang kian nyata di kawasan tersebut. (*)

Editor : Indra Zakaria