KYIV – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memberikan pernyataan tegas terkait masa depan demokrasi di negaranya di tengah kecamuk perang yang kini memasuki hari ke-1450. Zelenskyy menyatakan bahwa pemilihan umum (pemilu) nasional hanya akan dilaksanakan apabila gencatan senjata dengan Rusia telah tercapai dan jaminan keamanan bagi warga negara sudah terpenuhi sepenuhnya.
Pernyataan ini muncul sebagai jawaban atas spekulasi internasional, terutama tekanan dari Amerika Serikat, yang mendorong Ukraina untuk segera menggelar pemilu. Sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai pada tahun 2022, Ukraina telah memberlakukan status darurat militer yang secara konstitusional menunda seluruh proses pemungutan suara demi alasan keselamatan dan stabilitas nasional.
Zelenskyy mengisyaratkan adanya kemungkinan perang berakhir pada musim panas mendatang. Namun, ia menekankan bahwa momentum tersebut sangat bergantung pada kekuatan tekanan politik dan diplomatik internasional terhadap Moskow. Ia secara terbuka meminta Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan tersebut, dengan menegaskan bahwa nasib perdamaian tidak hanya berada di tangan Ukraina semata.
Di saat isu politik menjadi perbincangan, situasi di lapangan justru kembali memanas. Pada Kamis dini hari, Rusia melancarkan serangan rudal besar-besaran yang menyasar ibu kota Kyiv. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menyebut serangan kali ini sebagai salah satu yang terdahsyat dalam beberapa waktu terakhir, di mana rudal menghantam bangunan di kedua sisi Sungai Dnipro. Meski tidak ada korban jiwa dalam serangan di ibu kota, tim medis dan petugas darurat harus bekerja ekstra di lokasi kejadian.
Kondisi berbeda dilaporkan terjadi di kota Dnipro dan wilayah sekitarnya di tenggara Ukraina. Serangan Rusia di wilayah Dnipropetrovsk dilaporkan memakan korban jiwa, termasuk satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami-istri dan anak mereka. Serangan ini juga menyebabkan kerusakan parah pada rumah warga dan kendaraan di pemukiman sipil.
Menanggapi gelombang serangan terbaru, Pemerintah Ukraina melalui Perdana Menteri Denys Shmyhal menyatakan akan mempercepat penguatan sistem pertahanan udara. Fokus utama saat ini adalah memproteksi ibu kota Kyiv serta infrastruktur energi vital. Langkah ini diambil guna mencegah pemadaman listrik massal dan gangguan sistem pemanas, mengingat infrastruktur energi kerap menjadi target utama Rusia di tengah musim dingin yang ekstrem. (*)
Editor : Indra Zakaria