Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Jejak Prajurit Kuno di Tiga Negara: Mengulas Sejarah Panjang dan Perlawanan Bangsa Baloch

Indra Zakaria • 2026-02-20 11:30:00
Gerilyawan Baloch.
Gerilyawan Baloch.

 

QUETTA – Bangsa Baloch, kelompok etnis yang kini tersebar di perbatasan Pakistan, Iran, dan Afghanistan, menyimpan sejarah yang berakar jauh hingga ke masa Media kuno di pesisir Laut Kaspia. Migrasi besar mereka ke arah timur terjadi pada periode Sasanian akhir sebagai upaya menghindari ketidakstabilan regional. Pada abad ke-9, para penulis Arab telah mencatat mereka sebagai masyarakat pastoral tangguh yang mendiami medan keras antara Kerman, Khorasan, dan Makran.

Warisan militer mereka yang kuat, yang sering dikaitkan dengan pasukan Persia kuno, tercermin dalam tradisi sorban yang berevolusi dari helm khas prajurit abad pertengahan yang dihiasi jengger ayam jantan sebagai simbol keberanian.

Masa kejayaan politik Baloch mencapai puncaknya antara abad ke-12 hingga ke-19 melalui pembentukan konfederasi suku yang sangat berpengaruh. Nama-nama besar seperti Mir Chakar Khan sempat memperluas kendali hingga ke wilayah Punjab dan Multan pada tahun 1500-an. Sejarah juga mencatat berdirinya Kekhanan Kalat pada tahun 1666 yang memerintah secara otonom dari Helmand hingga Laut Arab di bawah kepemimpinan Nasir Khan I. Di wilayah Sindh, Dinasti Talpur memerintah selama dekade-dekade terakhir sebelum akhirnya kekuasaan otonom ini dihancurkan oleh ekspansi kolonial Inggris pada pertengahan abad ke-19.

Kolonialisasi Inggris menjadi titik balik yang memecah otonomi politik Baloch melalui pembagian wilayah secara administratif menjadi tiga zona yang berbeda: India Britania, Iran Qajar, dan Emirat Afghanistan. Garis perbatasan yang ditarik secara sewenang-wenang ini mengubah bangsa yang semula bersatu menjadi kelompok minoritas yang tersebar di negara-negara modern. Saat ini, diperkirakan terdapat 15 juta orang Baloch yang mendiami tanah leluhur mereka, di mana mereka mencakup 50 persen populasi di provinsi Balochistan, Pakistan, serta mendiami wilayah Sistan-Baluchestan di Iran dan Afghanistan selatan.

Sejak tahun 1948, dinamika politik di wilayah ini diwarnai oleh gejolak perlawanan yang terus berulang. Di Pakistan, gerakan perlawanan Baloch telah melancarkan lima pemberontakan besar untuk menuntut otonomi dan kendali atas kekayaan sumber daya alam mereka. Konflik panjang ini telah memicu krisis kemanusiaan yang serius, termasuk tuduhan penghilangan paksa dan pembunuhan di luar hukum. Situasi serupa terjadi di Iran, di mana warga Baloch yang mayoritas beragama Islam Sunni menghadapi diskriminasi sistematis. Tragedi "Jumat Berdarah" tahun 2022 di Zahedan, yang menelan korban hampir seratus demonstran, menjadi saksi bisu atas tingginya tensi konflik antara etnis Baloch dan otoritas keamanan negara.

Di tengah penindasan yang berlangsung puluhan tahun, gerakan perlawanan modern Baloch kini menampilkan peran kepemimpinan perempuan yang sangat dominan. Nama-nama seperti Mahrang Baloch dan Sammi Deen Baloch telah menjadi simbol perjuangan hak asasi manusia, di mana Sammi baru-baru ini dianugerahi Penghargaan Hak Asasi Manusia Asia Pasifik 2024. Meskipun terfragmentasi oleh perbatasan tiga negara, masyarakat Baloch tetap konsisten menjaga identitas budaya mereka melalui bahasa yang khas, struktur kesukuan, hingga kerajinan tangan tradisional. Perjuangan mereka mencerminkan salah satu gerakan nasionalisme terlama di Asia Selatan, sebuah upaya kolektif masyarakat tanpa kewarganegaraan untuk menuntut hak penentuan nasib sendiri sebagai kelompok etnis yang bersatu. (*)

Editor : Indra Zakaria