KÜLTEPE – Sebuah penemuan arkeologis luar biasa di situs kuno Kültepe kembali membuka tabir sejarah mengenai salah satu penguasa paling berpengaruh di dunia kuno. Sebuah tablet tanah liat yang berasal dari abad ke-19 hingga ke-18 Sebelum Masehi (SM) ditemukan sebagai salinan teks penting yang memuja kejayaan pendiri Kekaisaran Akkadia, Sarru-kin. Prasasti ini menjadi unik karena ditulis menggunakan dialek Asyur Kuno, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh dan warisan sang raja bahkan ratusan tahun setelah masa kepemimpinannya berakhir.
Teks yang terukir pada tanah liat tersebut dibuka dengan rentetan pernyataan kekuatan yang menggetarkan. Sang penguasa mencantumkan gelar-gelar agung yang menegaskan dominasinya, mulai dari "Raja Akkad", "Raja Empat Penjuru Alam Semesta", hingga julukan "Raja yang Perkasa". Gelar-gelar ini bukan sekadar sebutan formal, melainkan sebuah proklamasi atas tatanan dunia baru yang coba dibangun oleh Kekaisaran Akkadia pada masa itu.
Lebih dari sekadar gelar, tablet ini memuat klaim ekspansi militer yang sangat ambisius. Dalam narasinya, Sarru-kin menyatakan telah menaklukkan seluruh wilayah yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam. Pernyataan ini menggambarkan ambisi sang raja untuk menguasai seluruh dunia yang dikenal saat itu, menjadikannya salah satu tokoh pertama dalam sejarah yang mempraktikkan konsep kekaisaran universal.
Namun, bagian yang paling memukau para sejarawan adalah klaim kemenangan militer yang mencengangkan. Teks tersebut mencatat bahwa dalam satu hari yang menentukan, Sarru-kin berhasil mengalahkan 70 kota dan menangkap seluruh raja mereka secara bersamaan. Meskipun para ahli melihat angka ini sebagai bentuk retorika sastra yang bertujuan mengagungkan kekuatan sang raja, penemuan ini tetap menjadi bukti penting bagaimana narasi kekuasaan dibangun dan dipelihara melalui media tulisan sejak ribuan tahun silam.
Penemuan di Kültepe ini memberikan perspektif baru bagi para peneliti mengenai bagaimana memori tentang Kekaisaran Akkadia tetap hidup dan dihormati di wilayah Asyur. Tablet ini bukan sekadar benda mati, melainkan saksi bisu tentang bagaimana ideologi kekuasaan dan propaganda raja-raja besar Mesopotamia pertama kali diperkenalkan ke panggung sejarah dunia. (*)
Editor : Indra Zakaria