Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mandat Khusus Pasukan TNI di Gaza: Jaga Warga Sipil Tanpa Pelucutan Senjata

Redaksi Prokal • 2026-02-21 13:13:00

Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan keterangan pers di Washington DC, Jumat (20/2/2026) malam waktu setempat.
Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan keterangan pers di Washington DC, Jumat (20/2/2026) malam waktu setempat.

WASHINGTON DC  — Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan penegasan krusial mengenai parameter tugas prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Gaza, Palestina. Dalam keterangan persnya di Washington DC, Menlu Sugiono menekankan bahwa pengerahan ribuan personel tersebut murni untuk misi kemanusiaan dan perlindungan sipil, bukan untuk operasi militer ofensif.

Indonesia secara resmi telah menyampaikan batasan pengerahan pasukan atau national caveat kepada struktur ISF untuk memastikan bahwa prajurit TNI tidak akan terlibat dalam upaya pelucutan senjata maupun kegiatan demiliterisasi di wilayah tersebut.

Peran Indonesia dalam misi ini tergolong sangat strategis, di mana Indonesia dipercaya menjabat sebagai Wakil Komandan ISF di bidang operasi. Penunjukan ini merupakan bentuk penghormatan internasional terhadap rekam jejak dan reputasi tinggi prajurit TNI dalam berbagai misi perdamaian dunia selama ini. Di bawah komando Mayor Jenderal Jasper Jeffers dari Amerika Serikat sebagai Force Commander, Indonesia menjadi salah satu dari tiga deputi komandan yang mengawal stabilitas di Gaza pascatercapainya gencatan senjata.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menegaskan kembali komitmen besar Indonesia dalam pertemuan perdana Board of Peace di Donald J. Trump Institute of Peace. Indonesia menyatakan kesiapan untuk mengirimkan 8.000 prajurit, bahkan lebih jika diperlukan, sebagai kontribusi nyata bagi perdamaian di Gaza. Pasukan dalam jumlah signifikan ini akan difokuskan pada upaya menjaga masyarakat sipil di kedua belah pihak dan terlibat aktif dalam penyaluran bantuan kemanusiaan. Meski tetap memegang teguh prinsip non-militer, prajurit TNI dibekali dengan aturan keterlibatan atau rule of engagement yang memungkinkan mereka melakukan tindakan pertahanan diri jika mendapatkan serangan.

Misi besar ini diproyeksikan akan melibatkan total 20.000 tentara dan 12.000 polisi dari berbagai negara peserta untuk memulihkan situasi pascaperang. Wilayah Rafah di selatan Gaza yang berbatasan langsung dengan Mesir ditetapkan sebagai titik tujuan pertama bagi pengerahan pasukan ISF. Kehadiran Indonesia sebagai salah satu kontributor pasukan terbesar sekaligus pemegang tongkat komando operasi diharapkan mampu mempercepat proses stabilisasi dan memberikan rasa aman bagi warga Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan. (*)

Editor : Indra Zakaria