Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kisah Haru Punch, Bayi Monyet di Jepang yang Mencari Kasih Sayang dengan Boneka Setelah Ditolak Sang Ibu

Redaksi Prokal • 2026-02-23 04:58:20

Punch mendekap boneka monyet yang dianggap sebagai ibunya. (X)
Punch mendekap boneka monyet yang dianggap sebagai ibunya. (X)

ICHIKAWA – Sebuah kisah menyentuh hati datang dari Kebun Binatang Kota Ichikawa, Jepang. Seekor bayi kera jenis makaka bernama Punch menjadi pusat perhatian publik setelah kisahnya yang penuh perjuangan untuk mendapatkan kasih sayang viral di media sosial.

Punch, yang kini baru berusia tujuh bulan, harus menghadapi kenyataan pahit sejak awal kehidupannya. Tak lama setelah dilahirkan, induk alaminya secara mengejutkan menunjukkan perilaku penolakan. Tanpa alasan yang jelas, sang induk enggan menyusui maupun mendekap bayi mungis tersebut, sebuah tindakan yang di alam liar berarti vonis mati bagi seekor bayi kera.

Melihat kondisi Punch yang kian lemah dan terus merintih mencari kehangatan, para staf kebun binatang memutuskan untuk segera turun tangan. Mereka mengambil alih peran sebagai "orang tua asuh" demi menyelamatkan nyawa bayi makaka tersebut.

Punch menyeret boneka yang dianggap ibunya. (X)
Punch menyeret boneka yang dianggap ibunya. (X)

“Kami harus bertindak cepat. Bayi kera sangat membutuhkan kontak fisik dan kehangatan untuk bertahan hidup, bukan hanya sekadar makanan,” ujar salah satu petugas perawat hewan di Kebun Binatang Ichikawa.

Boneka Sebagai Pengganti Dekapan Ibu

Salah satu momen yang paling menguras air mata pengunjung dan netizen adalah saat Punch terlihat sangat bergantung pada sebuah boneka kain pemberian perawat. Karena tidak mendapatkan dekapan dari bulu hangat ibunya, Punch sering terekam kamera sedang memeluk erat boneka tersebut saat tidur, seolah-olah benda mati itu adalah pelindung baginya.

Punch bersama boneka monyet. (X)
Punch bersama boneka monyet. (X)

Para staf harus memberikan susu formula melalui botol kecil setiap beberapa jam sekali, termasuk pada malam hari. Interaksi yang intens ini membuat Punch memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan para manusia yang merawatnya. Ia sering kali meraih ujung seragam perawat atau menangis kencang ketika mereka harus meninggalkan kandang karantinanya.

Meski kini tumbuh sehat di bawah asuhan tangan manusia, masa depan Punch masih diselimuti tantangan besar. Pihak kebun binatang menjelaskan bahwa membesarkan bayi kera secara manual memiliki risiko tinggi, yakni hilangnya identitas satwa tersebut.

Punch dan bonekanya. (X)
Punch dan bonekanya. (X)

Jika Punch terlalu terbiasa dengan manusia, ia terancam tidak akan bisa diterima kembali oleh koloni keranya di masa depan. Saat ini, tim ahli sedang menyusun strategi "reintegrasi" secara perlahan agar Punch mulai belajar berkomunikasi dan berperilaku layaknya kera makaka pada umumnya, meskipun ia kehilangan momen emas belajar langsung dari induknya.

Laporan dari pengelola kebun binatang pada Minggu (22/2), Punch kini sehat dan ada dua monyet dewasa yang menjaganya. "Berkat semua orang, kandang tetap damai tanpa pertengkaran berarti. Sekitar pukul 17.00, Punch terlihat dirawat dengan teliti oleh dua monyet lainnya; dia perlahan-lahan beradaptasi dengan kelompoknya," demikian pernyataan dari kebun binatang.

Kisah Punch menjadi pengingat bagi banyak orang tentang sisi emosional hewan dan dedikasi luar biasa para penjaga kebun binatang yang sering kali harus melampaui tugas profesional mereka demi menjadi "ibu pengganti" bagi satwa yang terlantar. (*)

Editor : Indra Zakaria