Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Meksiko Mencekam: Kematian Bos Kartel "El Mencho" Picu Gelombang Kekerasan Besar

Redaksi Prokal • 2026-02-23 07:10:00

Gelombang kekerasan hebat melanda Meksiko menyusul kabar kematian pemimpin kartel paling dicari, Nemesio Rubén Oseguera Cervantes, yang lebih dikenal dengan julukan "El Mencho".
Gelombang kekerasan hebat melanda Meksiko menyusul kabar kematian pemimpin kartel paling dicari, Nemesio Rubén Oseguera Cervantes, yang lebih dikenal dengan julukan "El Mencho".

PUERTO VALLARTA – Pemerintah negara bagian Jalisco resmi menetapkan status "Siaga Merah" (Code Red) di seluruh wilayah menyusul operasi penegakan hukum berskala besar yang menewaskan pemimpin tertinggi Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG), Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes. Operasi yang berlangsung di kota Tapalpa pada Minggu dini hari tersebut memicu gelombang perlawanan bersenjata dan blokade jalan yang melumpuhkan sebagian besar wilayah Jalisco dan negara bagian tetangga.

Gubernur Jalisco, Pablo Lemus Navarro, mengonfirmasi bahwa pasukan federal telah melancarkan serangan presisi di Tapalpa yang memicu konfrontasi sengit. Sebagai bentuk pembalasan, anggota kartel melakukan pembakaran kendaraan dan pemblokiran jalan untuk menghambat pergerakan otoritas. "Saya telah memerintahkan pembentukan komite keamanan dari tiga tingkatan pemerintah dan mengaktifkan kode merah untuk mencegah tindakan kekerasan lebih lanjut terhadap warga sipil," tegas Navarro melalui media sosial X.

Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes.
Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes.

Dampak dari operasi ini terasa hingga ke ibu kota negara bagian, Guadalajara, dan pusat wisata Puerto Vallarta. Meski Bandara Internasional Guadalajara dilaporkan masih beroperasi di bawah penjagaan ketat Garda Nasional dan pasukan SEDENA, seluruh penerbangan menuju Puerto Vallarta telah dialihkan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Layanan transportasi bus di seluruh negeri juga dilaporkan mengalami pembatalan massal.

Di Puerto Vallarta, pemerintah kota mengeluarkan imbauan darurat bagi warga dan wisatawan untuk tetap berada di dalam ruangan guna menghindari risiko terjebak dalam aksi pembakaran kendaraan yang masih terus berlangsung. Sejumlah pusat bisnis telah menutup operasionalnya, sementara pihak hotel menginstruksikan para tamu untuk tidak meninggalkan area penginapan demi keamanan.

Sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi kekerasan, otoritas pendidikan Jalisco secara resmi meniadakan kegiatan belajar mengajar tatap muka pada Senin, 23 Februari 2026. Selain itu, seluruh acara publik berskala besar yang dijadwalkan pada hari Minggu juga ditangguhkan secara total.

Insiden ini dilaporkan merembet ke enam negara bagian tetangga, termasuk Aguascalientes, Colima, Guanajuato, Nayarit, Michoacán, dan Zacatecas, yang semuanya melaporkan adanya gangguan keamanan serupa. Sejauh ini, pihak berwenang telah menahan enam orang dan menyita sedikitnya tiga kendaraan dalam rangkaian insiden di berbagai lokasi, termasuk satu pelaku yang tewas dalam baku tembak di kawasan Lázaro Cárdenas.

RUSUH

Gelombang kekerasan hebat melanda Meksiko menyusul kabar kematian pemimpin kartel paling dicari, Nemesio Rubén Oseguera Cervantes, yang lebih dikenal dengan julukan "El Mencho". Situasi keamanan yang memburuk di pusat-pusat wisata seperti Puerto Vallarta memicu peringatan darurat bagi warga asing, termasuk warga Kanada yang diinstruksikan untuk segera mencari perlindungan di tempat aman (shelter in place).

El Mencho merupakan pemimpin tertinggi Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG), salah satu organisasi kriminal paling kuat dan kejam di dunia. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya bahkan telah menawarkan imbalan fantastis sebesar 15 juta dolar AS bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi demi penangkapannya. Berdasarkan catatan The Associated Press, El Mencho telah menjadi tokoh sentral dalam jaringan perdagangan narkoba internasional sejak era 1990-an.

Rekam jejak kriminalnya sangat panjang dan lintas negara. Mantan petugas kepolisian ini pernah divonis bersalah pada tahun 1994 atas konspirasi distribusi heroin di California, Amerika Serikat. Setelah menjalani hukuman penjara selama hampir tiga tahun, ia dideportasi kembali ke Meksiko. Namun, bukannya berhenti, ia justru membangun kekuasaan yang jauh lebih besar dan terorganisir di tanah kelahirannya.

Sejak tahun 2017, Oseguera telah berkali-kali didakwa oleh pengadilan Amerika Serikat atas berbagai pelanggaran terkait perdagangan narkoba skala besar. Kematian sosok yang sangat berpengaruh ini kini meninggalkan lubang kekuasaan yang memicu bentrokan berdarah antar-faksi di berbagai wilayah Meksiko.

Saat ini, otoritas keamanan di wilayah pesisir terus bersiaga penuh mengantisipasi serangan balasan atau perebutan wilayah oleh kartel rival. Wisatawan diimbau untuk tetap berada di dalam ruangan dan memantau perkembangan situasi melalui saluran resmi pemerintah, mengingat ketidakpastian keamanan yang masih sangat tinggi di lapangan.(*)

Editor : Indra Zakaria