Dunia hitam internasional baru saja kehilangan salah satu figur paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti. Nemesio Oseguera Cervantes, yang lebih dikenal dengan julukan "El Mencho", dilaporkan tewas dalam sebuah operasi militer besar-besaran di jantung pertahanannya, Jalisco, pada Minggu (22/2/2026).
Tewasnya pemimpin tertinggi Kartel Jalisco New Generation (CJNG) ini mengakhiri perburuan bertahun-tahun terhadap sosok yang dianggap sebagai musuh publik nomor satu oleh Amerika Serikat dan Meksiko.
Perjalanan hidup El Mencho adalah sebuah ironi yang mematikan. Sebelum membangun imperium narkoba yang bernilai miliaran dolar, ia merupakan seorang mantan perwira polisi. Namun, bukannya menegakkan hukum, ia justru menggunakan pengetahuan taktisnya untuk mendirikan CJNG sekitar tahun 2009. Di bawah kendalinya, kelompok ini berevolusi dari sekadar faksi kecil menjadi organisasi paramiliter paling agresif di dunia, yang berani menantang dominasi Kartel Sinaloa milik El Chapo.
Kehebatan sekaligus kekejaman El Mencho tercermin dari caranya mengelola kartel. Ia dikenal sebagai arsitek di balik produksi massal fentanil dan metamfetamin yang membanjiri pasar internasional. Tak hanya itu, ia memiliki reputasi yang sangat haus darah; mulai dari aksi mutilasi lawan hingga keberaniannya memerintahkan penembakan jatuh helikopter militer Meksiko menggunakan granat berpeluncur roket pada 2015 silam.
Kabar kematiannya pun disambut sebagai kemenangan besar bagi penegakan hukum global. Wakil Sekretaris Negara AS, Christopher Landau, menyebut peristiwa ini sebagai titik balik penting dalam perang melawan narkotika. "Ini adalah perkembangan luar biasa bagi dunia. Orang-orang baik terbukti lebih kuat daripada orang-orang jahat," tegasnya melalui pernyataan resmi yang mengonfirmasi keberhasilan operasi tersebut.
Namun, tewasnya sang gembong tidak serta-merta membawa ketenangan. Sesaat setelah operasi berakhir, gelombang kekerasan langsung pecah di beberapa wilayah Meksiko. Sebagai bentuk protes dan penghormatan terakhir bagi pemimpin mereka, anggota kartel melakukan blokade jalan dan pembakaran kendaraan di Jalisco hingga Michoacán. Hal ini memaksa pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan peringatan darurat bagi para turis untuk tetap berada di dalam rumah guna menghindari terjebak dalam baku tembak susulan.
Kini, dengan tewasnya El Mencho, dunia menanti apakah kekuatan CJNG akan runtuh atau justru memicu perang saudara yang lebih berdarah demi memperebutkan takhta yang kosong. Yang pasti, sang mantan polisi yang pernah dihargai kepalanya senilai $15 juta itu kini telah mencapai akhir dari pelariannya yang panjang. (*)
Editor : Indra Zakaria