PROKAL.CO- Ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran kembali menjadi sorotan dunia setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan Kongres pada Rabu (25/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Trump menegaskan kembali posisi teguh Amerika Serikat yang telah bertahan selama beberapa dekade, yakni menutup rapat pintu bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir.
Meskipun menyatakan keterbukaan terhadap jalur diplomasi, Trump memberikan catatan kritis mengenai sikap Iran sejauh ini. Ia mengungkapkan bahwa pemerintahannya belum mendengar komitmen yang cukup tegas dari pihak Teheran. "Mereka memang ingin membuat kesepakatan, tetapi kami belum mendengar kata-kata kunci: 'Kami tidak akan pernah memiliki senjata nuklir'," ujar Trump di hadapan para anggota dewan. Bagi sang Presiden, pernyataan eksplisit tersebut merupakan syarat mutlak sebelum sebuah kesepakatan baru dapat difinalisasi.
Lebih lanjut, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan memberikan kelonggaran sedikit pun kepada negara yang ia sebut sebagai sponsor utama terorisme dunia tersebut dalam urusan pengembangan teknologi nuklir militer. Fokus utama kebijakan luar negerinya saat ini adalah memastikan bahwa keamanan global tidak terancam oleh potensi persenjataan nuklir di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, nada berbeda justru datang dari pihak Teheran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, dalam sebuah wawancara dengan NPR pada Selasa (24/2), memberikan sinyal bahwa pihaknya sangat serius untuk mengakhiri kebuntuan ini. Takht-Ravanchi menyatakan bahwa Iran siap menempuh langkah-langkah strategis demi tercapainya kesepakatan sesegera mungkin dengan pihak Gedung Putih.
Pertentangan narasi ini menciptakan dinamika baru dalam percaturan politik internasional. Di satu sisi, Iran mengklaim siap melakukan apa pun yang diperlukan demi stabilitas, namun di sisi lain, Washington tetap pada pendiriannya untuk menuntut pengakuan de jure yang lebih tegas. Dunia kini menanti apakah diplomasi meja makan akan mampu mencairkan dinginnya hubungan kedua negara, atau justru AS akan tetap bertahan pada tekanan maksimalnya.(*)
Editor : Indra Zakaria