KABUL — Situasi di Asia Selatan berada di ambang perang terbuka setelah jet tempur Pakistan melancarkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Afghanistan, Kabul, serta wilayah Kandahar pada Jumat (27/2/2026). Serangan ini memicu kabar burung yang menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Emirat Islam Afghanistan, Hibatullah Akhundzada, tewas bersama sejumlah komandan senior Taliban.
Laporan mengenai kematian Akhundzada pertama kali menyebar melalui akun intelijen sumber terbuka (OSINT) di media sosial yang mengeklaim bahwa serangan udara Pakistan berhasil menghantam markas komando utama di Kabul. Namun, hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi baik dari pihak Islamabad maupun Kabul mengenai nasib sang pemimpin tertinggi yang dikenal sangat tertutup tersebut.
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, dengan tegas membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai propaganda hitam. "Laporan mengenai pemimpin kami yang menjadi target serangan adalah sepenuhnya palsu dan merupakan bagian dari kampanye disinformasi media," ujar Mujahid dalam pernyataan resminya. Ia menambahkan bahwa meskipun serangan udara terjadi, kepemimpinan Taliban tetap aman dan tidak terluka.
Serangan udara Pakistan ini merupakan balasan atas serangan lintas batas yang dilakukan pasukan Afghanistan sebelumnya. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengonfirmasi bahwa operasi militer tersebut menargetkan infrastruktur militer Taliban, termasuk markas besar Brigade 313 di Kabul dan beberapa titik di Kandahar. "Ini adalah respons tegas terhadap agresi di perbatasan. Kami tidak akan membiarkan wilayah kami diancam," tegas Tarar melalui akun resminya.
Meski kabar kematian Akhundzada masih simpang siur, satu pejabat tinggi Taliban dilaporkan telah gugur. Mullah Neda Mohammad Nadeem, Menteri Pendidikan Tinggi yang juga merupakan menantu dari Akhundzada, dikabarkan tewas dalam serangan di salah satu kompleks militer. Kematian Nadeem menjadi pukulan signifikan bagi birokrasi internal Taliban di tengah meningkatnya ketegangan militer.
Kondisi di Kabul saat ini dilaporkan mencekam dengan suara ledakan dan deru jet tempur yang terdengar selama berjam-jam. Di sisi lain, warga sipil juga menjadi korban dalam eskalasi ini; PBB melaporkan setidaknya 13 warga sipil tewas akibat serangan udara yang menghantam wilayah pemukiman di perbatasan. Dunia internasional kini tengah memantau ketat situasi ini, khawatir konflik dua negara tetangga tersebut akan memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas di kawasan. (*)
Editor : Indra Zakaria