Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tensi Meningkat: Trump Terima Paparan Opsi Militer Terhadap Iran di Tengah Negosiasi Nuklir

Redaksi Prokal • 2026-02-28 12:45:00

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim dirinya adalah presiden sementara Venezuela. (Los Angeles Times)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim dirinya adalah presiden sementara Venezuela. (Los Angeles Times)

WASHINGTON — Di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung di Swiss, Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah menerima pengarahan khusus mengenai berbagai opsi militer yang dapat diambil terhadap Iran. Paparan strategis ini disampaikan langsung oleh Laksamana Madya Brad Cooper, Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), di Gedung Putih.

Pertemuan tingkat tinggi tersebut juga dihadiri oleh Jenderal Dan Caine selaku Ketua Kepala Staf Gabungan. Langkah ini mencuat saat delegasi AS dan Iran sedang menjalani putaran ketiga perundingan tak langsung di Jenewa untuk membahas pembatasan program nuklir serta pengembangan rudal balistik Teheran.

Meskipun militer AS mulai menyiapkan skenario teknis, jalur diplomasi sebenarnya menunjukkan sinyal positif. Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang bertindak sebagai mediator, melaporkan adanya kemajuan signifikan. Nada optimis juga datang dari Menlu Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut kedua belah pihak semakin serius dan mendekati kesepakatan pada poin-poin tertentu. Rencananya, perundingan teknis lanjutan akan digelar di Wina, Austria, pekan depan.

Namun, di balik layar pemerintahan, situasi tampak lebih kompleks. Sejumlah pejabat pemerintahan Trump dan politisi Partai Republik secara tertutup menyarankan agar Israel yang memimpin serangan jika opsi militer benar-benar diambil. Trump sendiri dilaporkan mulai frustrasi karena Iran belum sepenuhnya menyetujui tuntutan ketat terkait pengayaan uranium.

Pihak Gedung Putih melalui wakil juru bicara Anna Kelly enggan memberikan kepastian mengenai langkah yang akan dipilih sang presiden. Ia menegaskan bahwa spekulasi media tidak menggambarkan keputusan final, karena hanya Presiden Trump yang memegang kendali penuh atas kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran.(*)

Editor : Indra Zakaria