ISLAMABAD – Mantan Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah dan militer terkait penanganan pengungsi Afghanistan. Dalam pernyataan terbarunya, Khan mengingatkan kembali nilai-nilai luhur Islam dan sejarah panjang persaudaraan kedua negara yang kini dianggapnya tengah berada di ambang kehancuran akibat kepentingan politik sesaat.
Imran Khan menegaskan bahwa hubungan dengan Afghanistan bukan sekadar tetangga, melainkan ikatan darah dan iman yang telah terjalin sangat lama. "Afghanistan adalah negara saudara Muslim kita. Pengungsi Afghanistan telah tinggal di sini selama tiga generasi," ujar Khan dengan nada menyesal melihat kondisi para pengungsi saat ini.
Ia kemudian membandingkan situasi tersebut dengan peristiwa sejarah paling mulia dalam Islam, yaitu Hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, penghormatan dunia terhadap kaum Ansar di Madinah lahir karena kerelaan mereka berbagi hidup dengan pendatang. "Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, orang-orang membukakan pintu mereka untuk beliau, dan itulah sebabnya kaum Ansar Madinah dihormati hingga hari ini. Tetapi kita telah mempersempit ruang bagi saudara-saudara Muslim kita," tuturnya membandingkan keteladanan masa lalu dengan realitas pahit sekarang.
Lebih lanjut, Khan menyayangkan langkah otoritas keamanan yang secara agresif menekan para pengungsi untuk meninggalkan Pakistan. Bagi Khan, tindakan mengusir dan memaksa mereka keluar adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat disayangkan bagi sebuah negara mayoritas Muslim.
Pernyataan Khan semakin memanas ketika ia secara terbuka menuding Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, sebagai aktor di balik kebijakan keras tersebut. Khan menganggap langkah militer saat ini hanyalah upaya untuk mencari muka di hadapan pihak asing. "Asim Munir melakukan semua ini untuk menyenangkan lobi anti-Taliban, dan di tempat yang tidak ada perang, ia sengaja memicu perang," tegas Khan dalam kritiknya yang tanpa basa-basi.
Menutup pernyatannya, tokoh oposisi utama ini memberikan peringatan keras kepada pemerintah agar segera meredam ketegangan sebelum semuanya terlambat. Ia mendesak agar kebijakan represif ini segera dihentikan demi menjaga stabilitas kawasan. "Tindakan ini harus segera dihentikan; jika tidak, situasi akan semakin memburuk," pungkasnya. (*)
Editor : Indra Zakaria