Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Trump Umumkan Operasi Tempur Besar-Besaran di Iran: Katanya Misi Mulia demi Masa Depan

Redaksi Prokal • 2026-02-28 15:15:41

Pesawat F-35 milik Israel dan Amerika terbang berdampingan di Timur Tengah. (US Air Force photo)
Pesawat F-35 milik Israel dan Amerika terbang berdampingan di Timur Tengah. (US Air Force photo)

WASHINGTON D.C. – Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya pada Sabtu pagi setelah Presiden Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah memulai "operasi tempur utama" di Iran. Dalam pernyataan video yang diunggah melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa tujuan utama dari serangan ini adalah untuk melindungi rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman mendesak dari rezim Teheran.

Dalam pernyataannya, Trump bersumpah akan menghancurkan program rudal serta angkatan laut Iran guna memastikan negara tersebut tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Ia pun memberikan ultimatum keras kepada pasukan Teheran untuk segera menyerah atau menghadapi kematian yang pasti. "Nyawa pahlawan Amerika yang berani mungkin akan hilang, dan kita mungkin jatuh korban. Itu sering terjadi dalam perang. Tapi kita melakukan ini bukan untuk sekarang—kita melakukan ini untuk masa depan. Dan ini adalah misi yang mulia," ujar Trump dalam video tersebut.

Operasi militer ini merupakan serangan gabungan antara Amerika Serikat dan Israel. Pihak pemerintah Israel menjadi yang pertama mengumumkan serangan tersebut, di mana Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut aksi militer ini sebagai langkah "preventif" untuk melenyapkan ancaman terhadap negaranya.

Teheran diserang Israel dan Amerika.
Teheran diserang Israel dan Amerika.

Katz juga memperingatkan bahwa sebagai konsekuensi dari serangan ini, serangan balasan berupa rudal dan pesawat tak berawak terhadap populasi sipil Israel diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Trump juga menyerukan kepada warga sipil Iran untuk mengambil alih kendali pemerintahan setelah operasi AS selesai. "Saat kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin akan menjadi satu-satunya kesempatan bagi kalian selama beberapa generasi," tegasnya.

Keterlibatan pasukan Amerika telah dikonfirmasi oleh pejabat AS kepada Business Insider, yang menyatakan bahwa serangan tersebut masih berlangsung. Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan ledakan dan gumpalan asap membumbung tinggi di wilayah Iran pada siang hari bolong. Serangan ini menandai aksi militer kedua pemerintahan Trump terhadap Iran, setelah sebelumnya pada Juni 2025 AS membom fasilitas nuklir negara tersebut dalam Operation Midnight Hammer.

Eskalasi ini terjadi di tengah penumpukan kekuatan militer besar-besaran oleh Pentagon di wilayah Timur Tengah dan perairan Eropa, yang melibatkan ratusan jet tempur, kapal perang, serta dua kapal induk, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford. Meskipun beberapa sekutu seperti Inggris dan Yordania menyatakan keberatan dan melarang penggunaan basis mereka untuk menyerang Iran, Amerika Serikat tetap melancarkan operasi tempur ini setelah kegagalan negosiasi di Jenewa pada hari sebelumnya. (*)

Editor : Indra Zakaria