Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lumpuhnya Nadi Perdagangan Dunia: Houthi Deklarasikan Penutupan Total Laut Merah demi Solidaritas Iran

Redaksi Prokal • 2026-03-01 08:00:00

Gerakan Houthi Yaman mengumumkan penutupan total Laut Merah bagi lalu lintas kapal pelayaran internasional. (Akun X @IranObserver0)
Gerakan Houthi Yaman mengumumkan penutupan total Laut Merah bagi lalu lintas kapal pelayaran internasional. (Akun X @IranObserver0)

 

PROKAL.CO- Dunia usaha internasional kini menghadapi guncangan hebat setelah gerakan Houthi di Yaman secara resmi mengumumkan penutupan total Laut Merah bagi seluruh lalu lintas pelayaran internasional pada Sabtu (28/2). Langkah ekstrem ini diambil sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran, menyusul eskalasi serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Teheran.

Melalui pernyataan yang menyebar luas di platform X, kelompok tersebut menegaskan kebijakan "total closure of the Red Sea for ships" atau penutupan penuh Laut Merah untuk semua kapal tanpa terkecuali. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengisyaratkan bahwa kapal-kapal yang terafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel akan menjadi target utama sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai agresi kriminal terhadap Iran.

Ancaman ini menempatkan Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk krusial menuju Terusan Suez, dalam posisi paling kritis sejak dekade terakhir. Sebagai salah satu choke point terpenting di dunia, setiap gangguan di selat sempit ini akan memicu efek domino pada biaya logistik dan energi global. Jika ancaman ini terbukti permanen, perusahaan pelayaran raksasa dipastikan akan mengalihkan rute mereka memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Langkah antisipatif ini mencerminkan ketakutan mendalam industri maritim terhadap potensi serangan rudal dan drone yang tak terduga.

"Pengalihan rute ini dapat menambah waktu tempuh hingga 10–14 hari, yang secara otomatis melambungkan biaya bahan bakar dan premi asuransi risiko perang," lapor pengamat industri pelayaran.

Bagi Indonesia, dampak dari blokade ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi nasional. Jalur Asia–Eropa melalui Terusan Suez merupakan urat nadi utama untuk impor komoditas vital seperti minyak mentah, gandum, dan barang manufaktur. Gangguan pada koridor ini berpotensi besar mendorong kenaikan harga barang di pasar domestik serta memperlama waktu tunggu pengiriman di pelabuhan utama seperti Tanjung Priok dan Belawan. "Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perhubungan diimbau untuk memantau perkembangan situasi secara intensif," mengingat potensi inflasi yang dipicu oleh terganggunya rantai pasok global ini.

Hingga saat ini, komunitas internasional masih menunggu respons resmi dari Pentagon maupun Badan Maritim Internasional (IMO) terkait klaim penutupan total tersebut. Namun, laporan dari Associated Press mengonfirmasi bahwa pejabat Houthi memang berencana melanjutkan serangan sebagai bentuk dukungan penuh terhadap Iran pasca-balasan rudal IRGC ke wilayah Israel. Dengan keterlibatan lebih banyak aktor regional, risiko konflik terbuka yang melumpuhkan ekonomi dunia kini berada di depan mata. Para pelaku usaha kini hanya bisa berharap jalur diplomasi masih memiliki celah, sebelum Laut Merah benar-benar menjadi zona terlarang yang memutus konektivitas timur dan barat.(*)

Editor : Indra Zakaria