TEHERAN – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada hari Sabtu secara resmi mengumumkan dimulainya operasi militer besar-besaran yang mereka sebut sebagai operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran. Pengumuman ini dikeluarkan menyusul konfirmasi syahidnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu pagi.
Berdasarkan laporan televisi pemerintah Iran dan kantor berita Tasnim, Ayatollah Ali Khamenei gugur di kantornya saat serangan rudal menghantam wilayah Teheran. Agresi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutu utamanya tersebut dilaporkan menyasar sejumlah target strategis di Iran, yang tidak hanya mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang signifikan tetapi juga menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan warga sipil.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip oleh stasiun televisi pemerintah, IRGC menegaskan bahwa dalam waktu singkat, kekuatan militer Iran akan dikerahkan sepenuhnya untuk menyerang wilayah Israel serta pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat yang mereka sebut sebagai pusat teroris di kawasan tersebut. Langkah ini merupakan eskalasi tertinggi dari aksi balasan Iran yang sebelumnya telah meluncurkan serangkaian rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah sesaat setelah agresi dimulai.
Situasi di kawasan kini berada dalam ketegangan yang sangat tinggi seiring dengan dimulainya operasi ofensif tersebut. Gugurnya Ali Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak 1989, menjadi pemicu utama bagi militer Iran untuk melakukan pembalasan skala penuh. Hingga saat ini, dunia internasional terus memantau pergerakan armada tempur kedua belah pihak di tengah kekhawatiran pecahnya perang terbuka yang lebih luas di Timur Tengah.
Pemerintah Iran juga telah menginstruksikan seluruh jajaran pertahanan untuk berada dalam posisi siaga tempur tertinggi guna mendukung operasi besar-besaran ini. Dengan hilangnya sosok pemimpin tertinggi, IRGC tampaknya mengambil peran sentral dalam menentukan arah konfrontasi militer Iran terhadap kekuatan asing di wilayah tersebut. (*)
Editor : Indra Zakaria