TEHERAN – Eskalasi militer di kawasan Teluk mencapai level paling berbahaya dalam dekade ini. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan telah meluncurkan serangan rudal besar-besaran yang menargetkan aset maritim dan instalasi militer Amerika Serikat (AS) serta Inggris di Selat Hormuz pada Minggu (1/3/2026).
Dalam pernyataan resmi melalui Sepah News, IRGC mengeklaim telah menghantam tiga kapal tanker milik AS dan Inggris hingga terbakar hebat. Serangan ini disebut sebagai aksi balasan langsung atas operasi militer berskala besar sehari sebelumnya oleh pasukan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Tidak hanya di laut, rudal-rudal Iran juga dilaporkan menghujam pangkalan-pangkalan militer AS di negara tetangga. IRGC menyatakan bahwa Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait lumpuh total setelah infrastruktur vitalnya hancur. Sementara itu, di Bahrain, pusat komando angkatan laut AS dan pangkalan Mohammed Al-Ahmad dilaporkan menjadi sasaran rudal balistik.
"Serangan tersebut telah menimbulkan 560 korban di pihak personel AS," bunyi pernyataan sepihak dari IRGC. Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak Departemen Pertahanan AS belum memberikan konfirmasi resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan di fasilitas tersebut.
Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh perusahaan pelayaran dunia. Ia mendesak penerapan "kewaspadaan maksimal" dan meminta kapal-kapal komersial untuk menghindari wilayah konflik jika memungkinkan. Dominguez menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz adalah prinsip dasar hukum maritim internasional yang tidak boleh diganggu gugat.
Ketegangan ini diperkirakan akan memicu guncangan hebat pada rantai pasok energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi pengiriman minyak mentah dunia. Saat ini, komunitas internasional sedang menanti respons lanjutan dari Washington atas serangan balasan Teheran yang menyasar pangkalan darat mereka di Kuwait dan Bahrain. (*)
Editor : Indra Zakaria