WASHINGTON- Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi penambahan jumlah personel militer mereka yang gugur. Dalam pengumuman resmi pada Senin (2/3), dua jenazah personel yang sebelumnya dinyatakan hilang ditemukan di sebuah fasilitas yang luluh lantak akibat serangan balasan Iran. Penemuan ini menggenapkan total tentara Amerika yang tewas menjadi enam orang dalam rangkaian operasi militer besar-besaran yang dimulai sejak akhir Februari lalu.
Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang kian destruktif, di mana kekuatan laut AS dilaporkan telah menenggelamkan 11 kapal angkatan laut Iran di Teluk Oman. Operasi udara berskala besar yang dilancarkan AS dan Israel sejak Sabtu (28/2) pagi itu sebelumnya telah memicu guncangan geopolitik global, setelah pihak Teheran mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara tersebut.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataannya pada Senin, memberikan sinyal bahwa kampanye militer ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Ia memprediksi operasi tempur terhadap Iran bisa berlangsung jauh lebih lama dari estimasi awal empat hingga lima pekan. Pernyataan ini sontak memicu gelombang kritik tajam dari dalam negeri, terutama dari kubu Partai Demokrat di Washington yang memandang tindakan militer ini sebagai langkah gegabah tanpa otorisasi resmi dari Kongres.
Hakeem Jeffries, tokoh terkemuka Demokrat di DPR AS, menyuarakan keprihatinan mendalam atas hilangnya nyawa para pahlawan Amerika di medan perang. Ia mendesak Kongres untuk segera mengambil tindakan tegas guna mengendalikan kebijakan luar negeri Presiden, demi mencegah lebih banyak jatuhnya korban jiwa dalam konflik yang dianggap tidak memiliki ancaman mendesak bagi keamanan nasional AS tersebut.(*)
Editor : Indra Zakaria