PROKAL.CO- Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak paling krusial setelah Pemerintah Amerika Serikat secara terbuka mengonfirmasi bahwa momentum serangan militernya terhadap Iran sangat dipengaruhi oleh rencana operasi strategis Israel. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang sekaligus mengungkap adanya koordinasi mendalam antara Washington dan Tel Aviv dalam menghadapi Teheran.
Dalam penjelasannya kepada media pada Selasa (3/3/2026), Rubio mengungkapkan bahwa Washington telah memiliki informasi awal mengenai rencana serangan Israel. Langkah militer AS diambil sebagai tindakan preventif untuk mengantisipasi balasan Iran terhadap aset-aset Amerika di kawasan. Menurut Rubio, membiarkan Iran melancarkan serangan terlebih dahulu hanya akan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang lebih besar di pihak AS.
Kekhawatiran tersebut terbukti nyata setelah militer AS mengonfirmasi jumlah personel mereka yang tewas meningkat menjadi enam orang akibat serangan balasan Iran. Eskalasi ini merupakan buntut dari operasi gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat senior lainnya. Sebagai respons, Teheran meluncurkan gelombang drone dan rudal yang menyasar pangkalan militer Amerika di wilayah Teluk.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran ini merupakan agenda strategis jangka panjang yang telah ia impikan selama puluhan tahun. Dengan dukungan Presiden Donald Trump, Netanyahu menyebut koalisi ini sebagai kekuatan kunci untuk melumpuhkan ancaman Iran. Washington sendiri berdalih bahwa serangan tersebut diperlukan untuk menghancurkan kemampuan rudal dan drone Iran yang dianggap melindungi program nuklir mereka.
Retorika Washington kini bahkan melampaui tujuan militer teknis. Rubio secara eksplisit menyuarakan dukungan terhadap perubahan politik di Iran, dengan harapan rakyat setempat dapat menggulingkan pemerintahan saat ini. Pernyataan ini muncul hanya selang 48 jam setelah kegagalan pembicaraan nuklir antara kedua negara, yang menandakan bahwa jalur diplomasi kemungkinan besar telah tertutup oleh keputusan militer.
Menyikapi situasi yang kian tak terkendali, Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan imbauan darurat bagi warganya di lebih dari selusin negara Timur Tengah untuk segera melakukan evakuasi. Dengan korban yang terus berjatuhan dan seruan perubahan rezim yang semakin lantang, kawasan ini kini berada di titik nadir keamanan yang mengancam terjadinya perang regional skala besar.(*)
Editor : Indra Zakaria