PROKAL.CO- Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat secara resmi menutup kedutaan besarnya di Arab Saudi dan Kuwait pada Rabu (4/3/2026). Langkah darurat ini diambil setelah Iran meningkatkan intensitas serangan balasan di seluruh kawasan, yang kini mengancam akan menyeret dunia ke dalam perang berkepanjangan.
Serangan dramatis terjadi semalam saat dua drone Iran menghantam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, menyebabkan sebagian atap bangunan runtuh dan memaksa penghentian seluruh operasional diplomatik. Pihak kedutaan sempat mengeluarkan peringatan "bahaya segera" terkait ancaman rudal susulan dan mendesak semua staf serta warga di sekitar lokasi untuk segera mencari perlindungan.
Hingga saat ini, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa enam personel militer Amerika telah tewas dalam rangkaian serangan balasan tersebut. Sementara itu, dampak operasi militer di pihak Iran dilaporkan jauh lebih mengerikan; sedikitnya 800 orang tewas sejak serangan gabungan AS-Israel ke Teheran akhir pekan lalu, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Di Washington, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan tegas dalam membela keputusannya meluncurkan serangan tanpa persetujuan Kongres. Trump menegaskan bahwa program nuklir Iran dan pengembangan rudal balistik mereka adalah "ancaman yang tidak bisa ditoleransi" bagi keamanan global.
"Kampanye militer ini, yang kami namakan 'Operation Epic Fury', diprediksi akan berlangsung selama empat hingga lima minggu," ujar Trump di Gedung Putih. Namun, ia juga menambahkan bahwa Amerika memiliki kapasitas militer untuk bertempur jauh lebih lama dari itu. Melalui platform Truth Social, Trump bahkan menuliskan kalimat yang memicu kekhawatiran diplomat global, dengan menyebut bahwa perang "dapat diperjuangkan selamanya."
Departemen Luar Negeri AS kini telah mendesak seluruh warga negaranya untuk segera keluar dari wilayah Timur Tengah seiring meluasnya zona konflik ke Israel dan Lebanon. Dengan korban yang terus berjatuhan di kedua belah pihak dan retorika perang tanpa akhir dari Gedung Putih, kawasan tersebut kini berada dalam fase paling berbahaya dalam sejarah modern. (*)
Editor : Indra Zakaria