Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lalu Lintas Energi Dunia Lumpuh: 300 Kapal Tanker Terjebak di Selat Hormuz Akibat Perang

Redaksi Prokal • 2026-03-04 13:30:00

Ilustrasi kapal tangker.
Ilustrasi kapal tangker.

MOSKOW – Urat nadi energi dunia kini dalam kondisi kritis setelah sekitar 300 kapal tanker dilaporkan terjebak di pintu masuk Selat Hormuz hingga Selasa (3/3). Data terbaru dari MarineTraffic yang dianalisis oleh RIA Novosti menunjukkan adanya lonjakan drastis jumlah kendaraan laut yang tertahan di Teluk Oman, dengan penambahan sekitar 200 kapal hanya dalam waktu singkat.

Lumpuhnya jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab ini merupakan dampak langsung dari eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah. Saat ini, nyaris tidak ada kapal tanker yang berani melintasi selat yang secara geografis diapit oleh Iran di sisi utara serta Uni Emirat Arab dan Oman di sisi selatan tersebut. Penghentian total pengiriman ini mengancam stabilitas pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global dari negara-negara Teluk.

Ketegangan mencapai puncaknya setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran, pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan dan menelan korban jiwa dari kalangan sipil. Iran tidak tinggal diam dan membalas serangan gabungan tersebut dengan meluncurkan rentetan rudal ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS yang tersebar di seluruh Timur Tengah.

Ironisnya, ledakan konflik ini terjadi di tengah upaya diplomasi nuklir antara Washington dan Teheran yang sedang dimediasi oleh Oman di Jenewa. Meski meja perundingan masih terbuka, aksi militer di lapangan justru semakin beringas dan mengabaikan upaya perdamaian yang sedang dirintis.

Kini, dunia menanti dengan cemas dampak ekonomi yang akan ditimbulkan dari blokade de facto di Selat Hormuz. Jika situasi ini terus berlanjut tanpa ada deeskalasi, krisis energi global diprediksi akan menghantam pasar internasional dalam waktu dekat mengingat pentingnya rute ini bagi distribusi energi dunia.(*)

Editor : Indra Zakaria