COLOMBO – Operasi penyelamatan dramatis berlangsung di perairan selatan Sri Lanka setelah fregat tercanggih milik Angkatan Laut Iran, IRIS Dena, tenggelam pada Rabu pagi (4/3/2026). Angkatan Laut Sri Lanka berhasil menyelamatkan 32 pelaut yang selamat dari maut, sementara puluhan lainnya dilaporkan tewas atau hilang dalam salah satu insiden maritim paling mematikan sejak konflik AS-Iran memanas sepekan terakhir.
Insiden ini terjadi sekitar 40 mil laut di lepas pantai Galle, Sri Lanka. Kapal IRIS Dena, yang membawa sekitar 180 kru, mengeluarkan sinyal darurat (distress call) sesaat setelah terjadi ledakan besar yang membelah bagian bawah kapal.
Angkatan Laut Sri Lanka merespons panggilan darurat tersebut sebagai bagian dari kewajiban kemaritiman internasional. Selain 32 korban selamat yang kini dirawat di Rumah Sakit Galle, tim SAR telah menemukan setidaknya 87 jenazah, sementara lebih dari 60 pelaut lainnya masih dinyatakan hilang di perairan yang kini tercemar tumpahan minyak.
IRIS Dena adalah salah satu kapal perang terbaru Iran yang diproduksi secara domestik dan menjadi simbol kebanggaan kekuatan laut Teheran. Kehilangannya di Samudra Hindia menandai babak baru eskalasi militer AS-Israel terhadap aset-aset Iran yang kini meluas jauh ke luar Teluk Persia.
Misteri penyebab tenggelamnya kapal tersebut langsung terjawab oleh pernyataan resmi dari Washington. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi dalam sebuah pengarahan di Pentagon bahwa sebuah kapal selam nuklir AS telah menembakkan torpedo kelas berat Mk-48 untuk melumpuhkan kapal tersebut.
"Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira mereka aman di perairan internasional. Sebaliknya, ia tenggelam oleh torpedo—kematian yang sunyi (quiet death)," ujar Hegseth.
Ini merupakan pertama kalinya sejak Perang Dunia II sebuah kapal selam AS menenggelamkan kapal perang musuh dengan torpedo dalam situasi pertempuran nyata.
Situasi Memalukan bagi Diplomasi Maritim India
Tenggelamnya IRIS Dena menciptakan situasi diplomatik yang canggung bagi India. Kapal perang Iran tersebut sebenarnya baru saja meninggalkan perairan India setelah berpartisipasi dalam latihan militer multilateral MILAN 2026 di Visakhapatnam atas undangan pemerintah New Delhi.
Kritik pun bermunculan karena insiden ini terjadi tepat di "halaman depan" pengaruh strategis India di Samudra Hindia. Meskipun India memiliki kekuatan angkatan laut terbesar di kawasan tersebut dengan lebih dari 145 kapal perang dan 67.000 personel, mereka tidak mampu mencegah serangan terhadap kapal yang baru saja menjadi tamu kehormatan dalam latihan gabungan mereka.(*)
Editor : Indra Zakaria