Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Operasi "Bendera Palsu" Terbongkar, Mantan Pakar CIA Sebut Israel Gunakan Drone Mirip Shahed Iran untuk Serang Negara Teluk

Redaksi Prokal • 2026-03-06 06:25:00

Benjamin Netanyahu
Benjamin Netanyahu

WASHINGTON D.C. – Sebuah pengakuan mengejutkan dari mantan pakar Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) mengguncang peta geopolitik Timur Tengah. Israel diduga kuat telah meluncurkan operasi rahasia menggunakan pesawat nirawak (drone) yang dirancang khusus agar identik dengan Shahed buatan Iran untuk menyerang sejumlah negara, terutama di kawasan Teluk.

Tujuan dari operasi "senyap" ini diklaim sebagai upaya sistematis untuk mengkambinghitamkan Teheran dan memicu ketegangan diplomatik antara negara-negara Arab dengan Iran.

“Israel secara diam-diam meluncurkan drone yang berwujud persis seperti drone Iran untuk menyerang berbagai sasaran. Sebagian besar serangan diarahkan ke wilayah Teluk, lalu setelah itu mereka menyalahkan Iran atas serangan tersebut,” ungkap mantan pakar CIA tersebut dalam sebuah laporan eksklusif.

Strategi Penyesatan Identitas

Penggunaan drone yang menyerupai model Shahed—yang selama ini menjadi ikon kekuatan udara Iran—dinilai sebagai langkah intelijen tingkat tinggi. Dengan replika yang sangat akurat, puing-puing yang ditemukan di lokasi ledakan akan mengarahkan penyelidik langsung ke industri militer Teheran.

Menurut sang pakar, strategi ini efektif untuk menciptakan narasi global bahwa Iran adalah ancaman utama stabilitas kawasan, sekaligus mengalihkan perhatian dari aktivitas militer Israel di wilayah lain. Negara-negara di Teluk, yang selama ini waspada terhadap ekspansi pengaruh Iran, menjadi target utama dari taktik penyesatan ini.

Laporan ini muncul di tengah situasi Timur Tengah yang sudah berada di titik didih. Jika klaim ini terbukti benar, hal tersebut akan menjadi skandal intelijen terbesar yang dapat merusak hubungan keamanan antara Israel dengan beberapa sekutu barunya di Arab yang terikat dalam Abraham Accords.

Hingga saat ini, pihak militer maupun intelijen Israel (Mossad) belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan serius ini. Namun, para analis militer menyebut bahwa kemampuan teknologi Israel memang memungkinkan untuk memproduksi replika persenjataan lawan demi misi-misi khusus.

Pengungkapan ini kini memicu desakan agar tim investigasi internasional melakukan peninjauan ulang terhadap bukti-bukti serangan drone di kawasan Teluk dalam beberapa tahun terakhir guna memastikan identitas asli sang penyerang.  (*)

Editor : Indra Zakaria